NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik- Program SML Goes to School yang digagas perusahaan perkebunan PT Sawit Mandiri Lestari (SML) yang sudah berlangsung di sejumlah sekolah di sekitar perkebunan dinilai menjadi percontohan sangat tepat dalam mengenalkan sekaligus memberi pemahaman utuh tentang semua hal mengenai kelapa sawit.

Melalui terobosan program yang edukatif tersebut, pihak perusahaan dinilai telah menemukan formula efektif dalam mengenalkan kelapa sawit dengan metode yang fresh dan mampu diterima dengan sangat baik oleh khalayak, termasuk kaum milenial.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lamandau Meigo, saat menyampaikan sambutan pada pembukaan SML Goes to School di SMAN 1 Lamandau, Kelurahan Tapin Bini, Kecamatan Lamandau, Senin (30/7/2018).

"Jujur saya sampaikan bahwa program Corporate Social Responsibility (CSR) SML Goes to School ini merupakan rule model. Ini hal baru, segar, inovatif dan juga efektif. Karena siswa diberikan pengenalan dan pemahaman dengan cara yang sangat baik dan juga detail hingga akan sangat mudah diterima. Tepat sekali untuk kaum milenial seperti anak didik kita ini," kata Meigo. 

Ia menyebut, sejauh ini dirinya belum pernah mendapati adanya perusahaan lain yang memiliki konsep program seperti SML Goes to School. Program ini, menurutny,a memiliki kesan fundamental.

--page

"Bahkan menurut saya program ini merupakan salah satu life skill yang efektif. Ini terobosan yang mendobrak mindset tidak benar terkait pemahaman sawit yang banyak disebut sebagai tanaman yang merusak. Padahal justru sebaliknya," katanya. 

Selain mengapresiasi, Meigo juga berharap program yang sama terus berlanjut dan lebih digalakkan lagi. Sehingga lebih banyak pihak yang mendapatkan pengetahuan lengkap dengan sumber yang benar.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian Lamandau Sunarto. Menurutnya, Kabupaten Lamandau merupakan daerah yang salah satu komoditas unggulan dan komoditas strategisnya adalah kelapa sawit.

Berdasarkan data, 100 ribu hektare lebih lahan perkebunan di Lamandau dikelola investor serta 25 ribu hektare lebih dikelola petani perorangan. Hal itu sudah harus menjadi dasar bahwa semua pihak harus memiliki pemahaman yang baik terkait komoditas unggulan ini, termasuk pemuda yang di kemudian hari pasti akan meneruskannya.

"Program dari PT SML ini sangatlah baik. Karena mampu membuka mata generasi penerus kita yang nantinya akan menjadi pelaku ekonomi. Program SML Goes to School ini kami yakini akan mengubah mindset muda-mudi kita yang tadinya cuek menjadi tahu, yang tadinya tahu menjadi ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat tentang pengelolaan komoditas unggulan dengan baik. Karena jika kondisi cuek ini dibiarkan, mereka tidak akan mengetahui potensi. Jika tidak tahu potensi komoditas, takutnya Lamandau akan kehilangan arah," katanya.

--page

Sunarto juga menggarisbawahi bahwa harus tetap ada perwilayahan dalam mengembangkan potensi komoditas, sehingga kondisi daerah tetap seimbang. (HENDI NURFALAH/B-3)