PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Terdapat beragam pertanyaan dari siswa SMKN 1 Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), yang ditujukan kepada pimpinan Citra Borneo Indah Group saat kegiatan CBI Group Goes to School, Rabu (1/8/2018).

Seorang siswa bertanya pada CEO CBI Group Rimbun Situmorang, apa kiat suksesnya hingga bisa menjabat sebagai pimpinan perusahaan berkelas internasional serta apa yang harus dilakukan para remaja untuk menghadapi persaingan global dan mencari kerja di masa pasar bebas sekarang ini?

Mendapat pertanyaan itu, Rimbun Situmorang pun tanpa sungkan membeberkan tips suksesnya memimpin CBI Group.

"Kiat sukses jangan pernah membatasi dirimu untuk belajar. Berpikir kreatif dan inovatif. Tingkatkan kompetensi diri agar bisa menjadi orang yang luar biasa. Hal itulah yang menjadi kiat saya hingga bisa menjadi seperti sekarang ini," tutur Rimbun Situmorang.

Untuk berkompetisi di era keterbukaan sekarang ini, lanjut dia, salah satunya ialah meningkatkan kemampuan diri.

--page

"Paling tidak penguasaan salah satu bahasa asing. Contohnya bahasa Inggris. Ini membuat kita bisa bersaing di kancah internasional. Akan lebih baik lagi bila menguasai bahasa asing lainnya," ungkap dia.

Siswa lainnya kemudian bertanya tentang cara CBI Group menghadapi maraknya kampanye hitam dari berbagai pihak terkait perkebunan sawit, khususnya dari Uni Eropa.

"Kita sama-sama ketahui bahwa saat ini seringkali perkebunan kelapa sawit dikambinghitamkan, menjadi penyebab kerusakan lingkungan. Perlu diketahui bersama hal ini disebabkan lantaran persaingan ekonomi," jelas Rimbun menjawab pertanyaan siswa tersebut.

Pasalnya, lanjut dia, pihak yang melakukan kampanye hitam lantaran benua mereka tidak bisa ditanami kelapa sawit.

"Mereka punya apa? Untuk menghasilkan minyak nabati Eropa hanya mengandalkan dari tanaman kacang kedelai dan bunga matahari yang hasilnya kalah jauh bila dibandingkan dengan sawit. Mereka selalu menyebutkan bahwa tanaman sawit kita merusak hutan. Nah sedangkan mereka juga merusak hutan untuk keperluan industri dan perkebunan. Kenapa mereka yang merusak, negara kita yang disalahkan?" 

--page

"Bisa bandingkan luasan hutan kita masih jauh lebih besar ketimbang hutan di Eropa," sambung Rimbun Situmorang.

Padahal, lanjut dia, perizinan perkebunan kelapa sawit tidak dikeluarkan atau diberikan serta merta begitu saja oleh pemerintah.

"Lahan yang kita tanami sawit adalah lahan yang dulunya sudah rusak dan sukit dilakukan reboiasi. Tidak mungkin kita membangun perkebunan di kawasan hutan yang masih bagus. Kemudian ada andil dari perusahaan sawit terhadap pembangunan di pelosok desa. Sudah banyak infastruktur berupa sekolah, jembatan, dan jalan kita bangun, yang hasilnya bisa dinikmati masyarakat," tegas Rimbun Situmorang. (KRIDA/B-3)