PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebanyak 30 narapidana dari Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas IIB Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang sudah dalam masa asimilasi dan sudah menjalani assesment bahu membahu bekerja bakti membuat dan membersihkan beberapa fasilitas publik yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Seperti yang dilakukan narapidana atau yang biasa disebut warga binaan tersebut di Jalan Landak, Kelurahan Sidorejo, Pangkalan Bun, Rabu (1/8/2018).

Mereka dengan penuh semangat memggali tanah untuk membuat sumur gali, lantaran lokasi tersebut seringkali mengalami kesulitan masalah air.

Kepala LP Kelas IIB Pangkalan Bun, Kusnan menjelaskan mengenai kegiatan yang bertajuk Bakti Kepada Negeri Merah Putih Narapidana yang dilakukan warga binaan tersebut.

"Sesuai amanat dan instruksi dari Kementerian Hukum dan HAM bahwa seluruh personel LP dan warga binaan harus mengabdikan dirinya pada masyarakat sesuai di mana kita berada," jelasnya.

--page

Menurut Kusnan ada lima inten kegiatan dilakukan oleh warga binaan tersebut.

"Di antaranya pembangunan sumur gali di Jalan Landak RT 1 Kelurahan Sidorejo, pembuatan lapangan tenis di halaman LP, renovasi kamar mandi di YPP Sabilur Rosyad Kelurahan Mendawai Seberang, pembersihan gorong-gorong di Jalan Malijo RT 15, RW 4 Kelurahan Madurejo dan pengecoran halaman masjid di Desa Kumpai Batu Atas," jelasnya.

Menurutnya warga binaan yang terlibat dalam gotong royong ini, adalah napi yang sudah memenuhi syarat minimal menjalani sudah setengah dan assesmen tingkat kematangan dan kedewasaan.

"Ada 11 petugas yang melakukan assesmen terhadap napi tersebut. Tentunya kita tidak mau dengan adanya kegiatan ini malah dimanfaatkan untuk tujuan tidak baik oleh napi. Jadi hanya napi yang benar-benar bisa bekerjasama dan dipercaya tidak melarikan diri yang diajak turut serta," sebutnya.

Kusnan berharap dengan adanya kegiatan seperti ini keberadaan napi atau warga binaan bisa memberikan manfaat dan mengubah stigma negatif bagi mereka.

"Lantaran tujuan utama pembinaan kita di LP adalah menyadarkan seseorang atas perbuatan keliru yang dilakukannya. Selain itu dengan adanya kegiatan ini paling tidak sedikit memberi hiburan pada mereka untuk melihat dunia luar setelah sekian lama berada dibalik tembok LP. Jadi hal ini juga menjadi pelajaran pada mereka bahwa kebebasan adalah hal yang luar biasa dan sangat berharga. Sehingga tidak lagi melakukan tindakan melawan hukum agar selalu bisa hidup bebas," tandasnya. (YUDA/B-6)