BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) berjangka pada perdagangan Selasa (31/7/2018) ditutup di level RM2.194, dengan menyentuh harga rendah (Low) di RM2.176 serta harga tinggi (High) di RM2.204.
"CPO berjangka naik tipis pada perdagangan Selasa, pulih pasca penurunan terendah satu pekan pada hari perdagangan sebelumnya. Kembali pulihnya harga dipengaruhi adanya kenaikan harga kedelai Amerika Serikat dan mata uang Ringgit Malaysia yang lemah sebesar 0,2% di RM4,0630 per dolar AS.
Harga acuan CPO untuk kontrak pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sebesar 0,1% pada RM2.194 per metrik ton di akhir hari perdagangan Selasa, setelah sebelumnya sempat menyentuh level RM2.176, yang merupakan kisaran harga terendah sejak 25 Juli.
"Perdagangan di hari Rabu ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.198. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga RM2.197, sementara harga tinggi (High) tercatat berada di RM2.202, dan harga rendah (Low) di RM2.190," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya, Rabu (1/8/2018).
Menurut dia, sebelumnya pasar memprediksi adanya peningkatan ekspor pada Juli, sementara perkiraan dari perusahaan inspeksi kargo ITS dan AmSpec telah menunjukkan ekspor cenderung turun sebesar 1,40% menjadi 3,50% dibandingkan Juni.
--page
Ekspor CPO Malaysia sedang dalam tren menurun selama tiga bulan terakhir. Harapan pasar akan terjadi pertumbuhan positif pada Juli setelah pengiriman periode 1-25 Juli yang naik hampir 5% dari waktu yang sama pada bulan Juni.
Namun kenaikan itu tidak berlangsung lama karena sebagian besar kenaikan tersebut berasal dari pengiriman ke Afrika, yang notabene bukan pembeli reguler dan besar dari Malaysia. Volume pengiriman ke Afrika tersebut jauh lebih rendah dari volume ekspor ke India dan Uni Eropa.
"Patokan tarif impor yang tinggi, persediaan yang melimpah ditambah terjadinya depresiasi mata uang Malaysia, telah mengubah prospek ekspor pasar CPO secara keseluruhan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Data fundamental yang berpotensi mempengaruhi laju pergerakan CPO berikutnya adalah rilis data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada 10 Agustus," ucapnya.
Arie menyebutkan potensi adanya penguatan pada hari ini perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran RM2.218 (resistance 1), RM2.228 (resistance 2), dan RM2.246 (resistance 3). Sementara potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan Support di kisaran harga RM2.173 (support 1), RM2.185 (support 2), dan RM2.165 (support 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)








