BORNEONEWS, Pangkalan Bun - RAM Ratings memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO) akan bergerak di kisaran RM2.200 dan RM2.400 per ton pada Semester II/2018.
Estimasi itu didasarkan pada meningkatnya permintaan terhadap biodiesel dan peluang pertumbuhan produksi domestik yang kemungkinan tak sekuat yang diperkirakan sebelumnya.
RAM juga menyebutkan kenaikan bea masuk di India terhadap produk minyak nabati selain minyak kedelai pada Juni 2018, juga diperkirakan akan menekan ekspor minyak sawit dari Malaysia dan Indonesia.
Pada semester I/2018, harga CPO rata-rata bergerak di level RM2.421, yang merupakan batas bawah estimasi RAM yang di kisaran RM2.400-RM2.600.
Harga CPO telah turun ke sekitar level RM2.100 pada akhir semester I tahun ini akibat lesunya permintaan, kenaikan produksi dan kekhawatiran terhadap perang dagang AS-China.
--page
RAM mengatakan bahwa setelah empat bulan mencatat pertumbuhan, produksi CPO Malaysia mengalami kontraksi pada Mei dan Juni.
Secara keseluruhan produksi minyak sawit di Malaysia naik 2% menjadi 8,92 juta ton pada enam bulan pertama 2018 dengan pertumbuhan yang lambat hingga akhir tahun ini.
Sementara itu, Indonesia juga mempertahankan tren pertumbuhan kuat, dengan produksi meningkat 24% on-year menjadi 18,37 juta ton pada periode Januari hingga Mei.
Dari sisi permintaan, ekspor Malaysia turun pada Mei dan Juni, tertekan oleh kenaikan bea masuk atas produk minyak sawit di India (efektif 1 Maret 2018) dan juga penerapan pajak ekspor CPO oleh Malaysia pada Mei. Namun demikian, ekspor secara keseluruhan meningkat 5% on-year pada semester I tahun ini.
Untuk ekspor minyak sawit Indonesia merosot 6% on-year dalam lima bulan pertama 2018 akibat lemahnya permintaan dari India dan Uni Eropa.
--page
Hingga akhir Juni 2018, stok minyak sawit Malaysia sebesar 2,19 juta ton, sedangkan cadangan di Indonesia tercatat sebesar 4,76 juta hingga akhir Mei 2018. (NEDELYA RAMADHANI/m)








