BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) mengalami kenaikan berkat dukungan permintaan domestik Malaysia seiring dengan penurunan tajam stok inti sawit (PK) dan CPO masing-masing sebesar 11% dan 21,30%.
"Namun produksi PK dan CPO lebih rendah masing-masing 19,44% dan 16,22% dari waktu yang sama tahun lalu. Pekan lalu CPO diperdagangkan antara RM221 hingga RM227 menjelang akhir pekan untuk mencapai nilai tertinggi dalam hampir 80 hari," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, baru-baru ini.
Namun demikian, ekspor CPO periode 1-20 Agustus saat ini sedang bergerak di kisaran yang sama dengan periode bulan lalu seiring ekspor ke Uni Eropa sebanyak 8.000 ton dalam 5 hari terakhir. Untuk diketahui, UE adalah pembeli CPO utama Malaysia.
Kenaikan ini juga didukung oleh kenaikan impor kelapa sawit di Rusia. Ekspor minyak sawit ke Rusia tetap meningkat setelah sempat melambat tahun lalu. Pada Mei 2018, pengiriman ke Rusia mencapai 77.200 ton, naik 13,2% dari bulan sebelumnya, dan 29,3% dari waktu yang sama tahun lalu.
Impor untuk periode 2017-2018, yang berlangsung dari September hingga Agustus, juga naik menjadi 777.200 ton, atau meningkat 21,2 persen YoY dari 641.100 ton tahun lalu.
--page
Ini merupakan rekor tertinggi untuk impor minyak sawit Rusia, dan impor selama 2017-2018 bisa mencapai sekitar 950.000 ton, serta kemungkinan mencapai 1 juta ton tahun depan jika tren terus berlanjut.
"Indonesia tetap menjadi kekuatan dominan di pasar Rusia yang sensitif terhadap harga, mewakili 84% dari seluruh impor untuk tahun pemasaran saat ini," katanya.
Untuk potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran level RM2.230 (support 1), RM2.220 (support 2), dan RM2.210 (support 3). Sedangkan potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan level resistance di kisaran RM2.250 (resistance 3), RM2.260 (resistance 2) dan RM2.270 (resistance 1). (NEDELYA RAMADHANI/m)








