JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Belakangan tekanan harga minyak sawit lebih dipengaruhi oleh pelemahan harga minyak nabati pesaingnya, terutama minyak kedelai.

Selain itu, pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) sejak medio pekan ini juga dipengaruhi oleh proyeksi peningkatan stok di Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar dunia.

Saat ini harga CPO berjangka diperdagangkan di kisaran RM2.200-an per ton.

"Perkiraan harga itu memang tidak terlalu bersahabat, tapi mungkin di kisaran itulah komoditas ini tetap menarik bagi para trader," kata seorang pelaku pasar di Jakarta akhir pekan ini.

Sebelumnya, pengamat industri sawit Dorab Mistry, menyatakan harga CPO perlu turun ke level RM2.100 per ton untuk bisa kembali kompetitif di pasar global.

Proyeksi itu tak jauh beda dengan estimasi dari pengamat terkemuka lainnya, James Fry, yang menyebut angka di kisaran RM2.200 pet ton hingga Desember.

Analis Thomas Mielke memiliki proyeksi yang lebih tinggi, yakni di kisaran RM2.500 per ton dalam enam bulan ke depan, sedangkan batas bawahnya adalah RM2.100 per ton. 

"Kami mendengar bahwa Indonesia mengalami kelebihan pasok," imbuhnya, seraya menyatakan bahwa faktor ini ikut memberi tekanan terhadap harga CPO.

Produksi CPO Indonesia 2018 ditargetkan naik 4-6 juta ton dari tahun lalu menjadi 40-42 juta ton.

Produksi CPO biasanya meningkat pasa kuartal ketiga dan keempat tahun ini seiring dengan tren musiman. (NEDELYA RAMADHANI/m)