JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tekanan bertubi-tubi dialami pasar komoditas minyak sawit mentah (CPO). Selain terimbas pelemahan minyak nabati pesaing, harga CPO juga tertekan anjloknya nilai tukar lira Turki.

Merosotnya mata uang Turki ikut menyeret jatuh sejumlah mata uang negara berkembang lain, termasuk Indonesia. Kemudian, hal itu berdampak pada penurunan permintaan CPO dari negara-negara kunci seperti Turki dan India, akibat menurunnya daya beli mereka.

India juga diprediksi menurunkan volume impor CPO ke level terendah 6 tahun menyusul kenaikan bea masuk demi melindungi petani lokal.

Pengamat industri komoditas sawit, Dorab Mistry, akhir pekan ini mengatakan bahwa nilai rupee India bisa turun lebih dalam, yang akan menurunkan impor minyak nabati.

"Akankah India memangkas bea masuk? Tak mungkin untuk jangka pendek sampai tanaman untuk minyak nabati yang ada sekarang dipanen dan dijual. Jika rupee terus melemah dan harga lokal naik 10 persen, dan kemudian bea masuk baru bisa diturunkan," kata Mistry.

--page

Sementara itu, Mistry juga menyebut harga CPO perlu turun menjadi RM2.100 per ton agar bisa kembali kompetitif, bahkan setelah jatuh 12 persen sejak awal tahun ini akibat lesunya permintaan. (NEDELYA RAMADHANI/m)