BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski nilai tukar ringgit Malaysia melemah terhadap dolar, yang dapat menjadi sentimen positif bagi penguatan harga minyak sawit mentah (CPO), tapi pasar masih dibayangi oleh proyeksi meningkatnya stok di Malaysia dan Indonesia.
"Pada hari ini harga crude palm oil (CPO) berjangka kembali melemah hingga ke level rendah RM2.223 berdasarkan trading view. Sentimennya masih pada melonjaknya produksi CPO, khususnya di Malaysia. Hingga akhir bulan Agustus pertumbuhan output sudah melampaui proyeksi ekspor," kata Analis PT Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi dalam risetnya di Jakarta, Kamis (6/9/2018).
Mengutip Reuters, produksi CPO Malaysia meningkat 9,9% menjadi 1,65 juta ton dari bulan Juli hingga bulan Agustus. Angka tersebut merupakan level tertinggi sepanjang 2018.
"Target survei ekspor Malaysia untuk bulan Agustus sebanyak 1,23 juta ton pun belum dapat terpenuhi. Bahkan bisa dikatakan masih cukup jauh dari target," ucapnya.
Untuk bisa segera menopang nilai ekspor, menurut Dini, pihak otoritas Malaysia kembali mengambil kebijakan 0% tarif ekspor untuk minyak sawit mentah. Kebijakan tersebut akan dijalankan selama September.
--page
Meski begitu, katanya, masih ada proyeksi bahwa harga CPO belum mampu menguat karena produksi masih diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa bulan mendatang seiring dengan tren musiman.
Dari Indonesia sendiri, pemerintah masih akan menjalani kebijakan seperti mandatori biodiesel B20 dan upaya peningkatan ekspor di tengah melemahnya rupiah saat ini.
"Meski kebijakan ekspor minyak sawit masih diberlakukan, namun beberapa analis menyarankan untuk memaksimalkan ekspor minyak sebagai komoditi utama Indonesia ini. Selain dapat menopang harga CPO, rupiah pun bisa tergenjot untuk stabil," kata Dini.
Melihat masih adanya outlook melonjaknya persediaan, tampaknya harga CPO masih dalam tekanan untuk turun dengan support di level RM2.200 dan resisten RM2.250. (NEDELYA RAMADHANI/m)








