JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada akhir pekan ini kembali melemah ke level RM2.215 jika melihat grafik dari Trading View. 

"Pelemahan tersebut pada akhirnya membentuk level terendah selama sepekan ini. Tampaknya harga CPO masih dalam tren bearish, yang dipicu oleh menumpuknya stok minyak sawit di Malaysia, yang masih diperkirakan belum bisa teratasi," kata Analis PT Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi dalam risetnya di Jakarta, Jumat (7/9/2018). 

Laporan kuantifikasi dari Reuters memperlihatkan bahwa persediaan minyak sawit hingga akhir Agustus diproyeksikan melonjak hingga 9% atau bertambah 2,41 juta ton. Sedangkan untuk produksinya diperkirakan akan naik hingga 9,9% atau bertambah 1,65 juta ton. 

"Melihat proyeksi menumpuknya persediaan tersebut, proyeksi untuk ekspor hingga hari ini belum memperlihatkan kenaikan. Untuk pengiriman minyak sawit kontrak pada bulan November saja, Bursa Malaysia Derivatives Exchange memproyeksikan terjadinya penurunan hingga 0,6%," sebut Dini. 

Melihat kondisi masih belum berkembangnya proyeksi impor ke luar negeri, Kementerian Industri Malaysia akan mengalokasikan hingga RM23 juta untuk mengupayakan promosi di kawasan Uni Eropa. 

--page

"Langkah itu dilakukan karena pihak otoritas Malaysia yang akan bekerja sama dengan Indonesia untuk mengupayakan dan mempromosikan minyak sawit guna menangkal tuduhan deforestasi hutan yang membuat Uni Eropa mengeluarkan kebijakan 'nol minyak sawit'," katanya. 

Banyaknya analis yang memproyeksikan tren bearish pada harga CPO, maka pelemahan lebih lanjut berpotensi mengincar level support 2.205 dengan resisten di level 2.225. (NEDELYA RAMADHANI/m)