JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah tutup pada perdagangan Senin dan Selasa, harga CPO berpeluang akan bergerak turun pada perdagangan Rabu (12/9/2018) setelah berakhir turun 0,5% di level RM2.266 pada akhir pekan lalu karena kenaikan cadangan minyak sawit serta anjloknya harga minyak nabati lainnya.

Regulator industri Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Rabu ini melaporkan bahwa cadangan minyak sawit Malaysia pada akhir Agustus naik 12,4 persen dari bulan sebelumnya menjadi 2,49 juta ton, tertinggi dalam 6 bulan terakhir.

Berdasarkan data MPOB, produksi pada Agustus juga mengalami kenaikan sebesar 7,9 persen dari bulan sebelumnya menjadi 1,62 juta ton, mengimbangi melambatnya kenaikan ekspor yang terlihat di angka 1,23 juta ton, kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta.

Sebelumnya, Reuters Thompson dalam surveinya memperkirakan cadangan pada akhir Agustus akan naik 9 persen menjadi 2,41 juta ton, sementara produksi diperkirakan akan naik 9,9 persen di angka 1,65 juta ton. Tingkat ekspor diperkirakan juga akan naik 2,3 persen menjadi 1,23 juta ton. 

Untuk cadangan minyak sawit Indonesia saat ini berada di level 4,901 juta ton dan cadangan Malaysia terlihat melampaui 2,20 juta ton, sehingga kemungkinan akan terjadi lonjakan cadangan di atas 7 juta ton.

--page

"Kondisi ini diperkirakan juga akan memberikan tekanan turun pada harga CPO," imbuh Faisyal. 

Sedangkan harga gandum berjangka AS turun sebesar 2 persen pada Selasa, mencetak penurunan kelima dalam enam sesi terakhir, karena dana investasi mengurangi eksposur risiko terhadap komoditas setelah adanya reli short-covering yang mengejutkan pada Senin. 

Adapun harga CPO kontrak November 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.260, dengan level tertingginya di RM2.263 dan level terendahnya di RM2.248, dengan harga saat ini sedang berada di level RM2.252.

"Potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi untuk penembusan di bawah level RM2.240 (Support 1), RM2.235 (Support 2), dan RM2.220 (Support 3), dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.270 (Resisten 1), RM2.276 (Resisten 2) dan RM2.290 (Resisten 3)," sebut Faisyal. (NEDELYA RAMADHANI/m)