BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka bergerak semakin melemah pada level RM2.222 setelah pada sesi sebelumnya ditutup di level RM2.243.
Riset PT Monex Investindo Futures, Selasa (18/9/2018), menyebutkan penurunan yang terjadi sejak awal September ini diakibatkan oleh beberapa hal, seperti tekanan dari melemahnya harga minyak sawit ke level terendah dalam dua pekan pada akhir pekan lalu karena kekhawatiran meningkatnya stok minyak sawit Malaysia.
"Selain itu juga disebabkan oleh penguatan ringgit Malaysia terhadap dolar AS dan imbas dari melemahnya harga minyak nabati terkait," ungkap analisis Monex.
Pelemahan harga jagung berjangka di pasar AS yang turun sekitar 1 persen pada Senin (17/9/2018) karena meningkatnya produksi berkat panen raya yang meningkat di pantai barat AS, juga turut memberikan tekanan terhadap harga CPO.
Kemudian, harga minyak mentah dunia yang bergerak dalam kisaran sempit pada Senin karena tertekan ketegangan perdagangan antara AS dan China, diekspektasikan pasar akan mengurangi permintaan minyak mentah global, selain juga karena ketatnya pasokan akibat sanksi terhadap Iran.
--page
Bursa saham global yang lesu karena pasar memfaktorkan kebijakan penerapan tarif barusebesar 10% oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk impor dari China senilai US$200 miliar, juga dinilai turut mempengaruhi pergerakan harga CPO.
"Proyeksi tren bearish pada harga CPO masih sangat terbuka, dan pelemahan lebih lanjut berpotensi mengincar level support 2.200 dengan resisten di level 2.250," kata Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)








