BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka turun lebih dari 2 persen pada Selasa (18/9/2018) ke level terendah satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.
Tekanan terhadap harga CPO berasal dari ketegangan dagang antara China dengan Amerika Serikat dan pelemahan harga minyak nabati pesaing minyak sawit, kata pelaku pasar di Jakarta.
Adapun harga acuan CPO untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,2 persen di level 2.198 ringgit ($530,79) per ton, Selasa. Bahkan harga CPO sempat menyentuh 2.195 ringgit per ton sebelum penutupan perdagangan, yang merupakan level terendah sejak 15 Agustus.
"Produksi tampaknya akan meningkat," kata pelaku pasar tersebut seraya menambahkan bahwa perseteruan dagang AS-China juga ikut mempengaruhi pergerakan harga komoditas tersebut.
Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tarif 10 persen terhadap produk impor China senilai $200 miliar, dan mengatakan bahwa jika Tiongkok membalas kebijakan tersebut, maka AS akan menaikkan tarif lagi dengan nilai impor $267 miliar dari Negeri Tirai Bambu itu.
--page
Menurut analis pasar energi Reuters, Wang Tao, harga CPO dapat jatuh ke level 2.197 ringgit karena telah menembus support di 2.227 ringgit per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








