JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam empat hingga enam bulan ke depan, harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivative akan naik ke kisaran RM2.400 hingga RM2.600 per ton.

Estimasi itu disampaikan Executive Director Oil World, Thomas Mielke, di Kuala Lumpur, Rabu (19/9/2018), dengan asumsi tekanan terhadap harga komoditas ini belakangan ini akan mereda, terutama mulai berkurangnya stok minyak sawit Malaysia. 

Sementara itu, CPO berjangka pada perdagangan Rabu (19/9/2018), jatuh ke level terendah dalam hampir dua bulan, yang terimbas oleh melemahnya minyak nabati lain dan ekspektasi meningkatnya stok minyak sawit di sejumlah negara penghasil sawit. 

CPO berjangka untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 1,8 persen menjadi 2.158 ringgit ($520,83) per ton, yang merupakan penurunan tiga sesi berurutan. 

Sementara itu, Managing Partner of Lardi & Partner Consulting GmbH, Strategy and Business Advisory, Kamles Lardi, mendesak Malaysia untuk melakukan komunikasi aktif ke publik di Uni Eropa untuk menentang rencana pelarangan pemakaian minyak sawit.

--page

“Sekitar 43 persen masyarakat Eropa secara aktif menggunakan media sosial, dan itu bisa ditangkal melalui media yang sama,” ucapnya.

Para pegiat lingkungan dan penggagas kampanye negatif sawit di Uni Eropa, selama bertahun-tahun menyebarkan informasi yang salah terkait minyak sawit, dengan klaim komoditas ini diproduksi melalui praktik yang tidak berkelanjutan.

Dengan komunikasi dan edukasi melalui media sosial, ujar Lardi, akan memiliki dampak yang signifikan, tak hanya bagi masyarakat biasa, tapi juga terhadap regulator. (NEDELYA RAMADHANI/m)