SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Buaya rawa dan danau tahun ini bermunculan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mentaya. Bahkan, beberapa di antaranya menyerang warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

"Memang di tahun ini banyak sekali buaya muncul ke permukaan. Bukan hanya buaya muara saja yang terlihat di Sungai Mentaya ini. Bahkan, ada buaya jenis lain yang muncul," ucap Direktur Polair Polda Kalteng Kombespol Badarudin, Senin (24/9/2018).

Dirpolair menerangkan, selain buaya muara, di DAS Mentaya juga terlihat adanya buaya Rawa dan Danau. Perilaku berbeda ditunjukan oleh buaya-buaya itu. 

Buaya Muara akan muncul ke permukaan dalam kurun waktu yang terbilang sebentar. Sementara buaya Rawa dan Danau akan muncul ke permukaan hingga puluhan menit.

"Buaya muara, begitu nongol kepalanya ke permukaan, dia akan cepat menyelam lagi. Berbeda dengan dua jenis buaya yang akhir-akhir ini sering terlihat. Buaya Rawa dan Danau akan muncul ke permukaan sembari berenang. Biasanya durasi di atas permukaan itu sekir 10 hingga 20 menit," jelas Badarudin.

--page

Munculnya buaya jenis lain di DAS Mentaya diperkirakan karena habitat alaminya sudah rusak, lantaran pengeringan rawa-rawa dengan dibangunnya kanal-kanal kecil yang langsung terhubung ke sungai Mentaya. Kemungkinan anak-anak buaya masuk melalui kanal tersebut.

Masyarakat sekarang sudah ada yang memelihara atau beternak ayam di atas sungai. Beberapa ternak yang mati langsung dibuang ke sungai. Kebiasaan seperti ini secara tidak langsung seperti memelihara buaya. Sebab buaya-buaya kecil menunggu di daerah itu karena seperti diberikan makan.

"Membersihkan ayam atau pun ikan di lanting, isi perut atau sisa pembersihannya dibuang ke sungai. Ini tentunya membuat buaya-buaya terbiasa dan saat tidak ada makanan, mereka malah menyerang manusia," terangnya.

Kebiasaan tersebut diharapkan tidak dilakukan lagi. Aktivitas di atas air pun diimbau untuk dikurangi sebab beberapa waktu terakhir banyak terdapat teror serangan buaya di DAS Mentaya. Mulai dari serangan buaya muara hingga buaya rawa supit. (ACHMAD SYIHABUDDIN/B-2)