BORNEONEWS, Pulang Pisau - Deputy CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Anton Nurcahyo menyebutkan, peran dari berbagai pemangku kepentingan terkait keberadaan Pulau Salat sangat nyata dan memberi manfaat ke berbagai pihak.
"Saya berpendapat ini sebuah awalan dari kerjasama yang sangat baik dan teroganisir. Dalam artian kita dalam posisi netral, khususnya pihak PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) karena kita bertujuan mencari solusi masalah konservasi orangutan," tuturnya, di Palangka Raya, Senin (24/9/2018).
Ia memyatakan hal itu disela-sela kunjungan Tim Forum Minyak Sawit Berkelanjutan atau Forum Nachhaltiges Palmol (FONAP) dari Jerman ke Pulau Salat. FONAP adalah aliansi perusahaan, organisasi non-pemerintah, asosiasi dan Kementerian Pertanian dan Makanan Federal Jerman (BMEL). Lembaga ini berdiri pada September 2013, berasal dari inisiatif perusahaan Henkel, Rewe dan Unilever dan organisasi non-pemerintah World Wide Fund (WWF).
"Pulau Salat yang dikelola dengan baik ini adalah salah satu jawaban untuk membantu kita merehabilitasi orangutan. Ini adalah salah satu tempat sekolah orangutan yang layak agar mereka bisa kembali hidup di hutan," lanjutnya.
Deputy CEO BOSF itu melanjutkan, manajemen yang sangat teroganisir inilah yang membuat lembaga konservasi tertarik melakukan kerjasama.
Selain itu, dia juga memgapresiasi pihak SSMS yang tidak melupakan keberadaan masyarakat kampung sekitar untuk juga terlibat langsung dalam pelestarian orangutan.
"Selain terlibat, masyarakat juga diuntungkan dengan buah-buhan dan sayuran mereka dibeli untuk pemberian makan orangutan setiap hari. Ini tentu menjadi catatan yang baik," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama Kepala Departemen Konservasi Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Joko Triyanto mengatakan, pemberian makan orangutan dengan membeli bahan makanan dari masyarakat sekitar ini menghabiskan biaya hampir Rp1 juta tiap hari. (GAZALI/m)








