BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi turun ke kisaran 2.157 ringgit per ton pada perdagangan Selasa (25/9/2018), dibandingkan penutupan Senin di level 2.163 ringgit per ton.
"Kenaikan harga minyak mentah dan stabilnya harga minyak kedelai menjadi pendorong kenaikan CPO pada hari Senin, di mana kenaikan tersebut juga tercatat sebagai yang terbesar dalam dua pekan terakhir," kata tim analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Selasa.
Harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak November 2014 di kisaran $81,48 per barel, begitu juga minyak WTI yang mendekati level $73 per barel akibat pasar memperkirakan suplai akan berkurang setelah AS mengenakan sanksi ekspor minyak mentah Iran mulai 4 November nanti. Selain itu, OPEC yang belum akan meningkatkan jumlah produksi juga menjadi sentimen positif bagi minyak mentah.
"Kenaikan harga minyak mentah turut berdampak terhadap harga CPO karena minyak nabati ini juga diolah menjadi biodiesel. Harga minyak mentah dan CPO cenderung memiliki korelasi positif," sebut Monex.
Selain itu, harga minyak kedelai yang cukup stabil di Chicago Board of Trade setelah menguat 1,8% juga menjadi sentimen positif bagi CPO. Kompetitor CPO ini menguat akibat kemungkinan terganggunya panen di AS.
--page
"Melihat pergerakan tersebut, jika harga minyak mentah dan minyak kedelai hari ini melemah, CPO berpeluang akan melanjutkan koreksi, dengan rentang perdagangan potensial 2.145 - 2.182 ringgit per ton," kata Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)








