JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pasca menguat selama tiga sesi terakhir, harga CPO berpotensi terkoreksi pada Senin (8/10/2018) karena kekhawatiran pasar terhadap tingginya produksi Malaysia.

Produksi CPO Malaysia bulan September diperkirakan akan membukukan pertumbuhan terkuat dalam 3 tahun karena meningkatnya hasil musiman dari Semenanjung Malaysia dan Serawak di timur Malaysia. 

Malaysian Palm Oil Association (MPOA) melaporkan produksi CPO naik 15,40% menjadi 1,87 juta ton, melampaui level rata-rata 5 tahun setelah menurunkan produksi dalam dua tahun di setiap September. 

"Ini akan menjadi pertumbuhan bulanan ketiga beruntun dan volume tertinggi dalam 10 bulan karena puncak produksi CPO Malaysia di bulan September hingga akhir November. Pertumbuhan yang kuat terlihat berasal dari Negara Bagian Serawak yang menyumbang 30% dari total produksi Malaysia," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya, Senin. 

Namun, produksi periode Januari - September 2018 diperkirakan turun 1,55% dari tahun lalu. Total produksi tahunan Malaysia diperkirakan menjadi 19,90 juta pada 2018, versus 19,92 juta ton pada 2017.

--page

Sementara itu, untuk sentimen positif bisa datang dari melemahnya mata uang ringgit. Pukul 11.30 WIB, terpantau ringgit melemah 0,13% di 4.1520 per dollar AS. Ringgit yang melemah akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih murah untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. 

"Untuk harga CPO kontrak Desember 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.216, dengan level tertingginya di RM2.216 dan level terendahnya di RM2.199, dengan harga saat ini sedang berada di level RM2.206," kata Monex.

Potensi pelemahan pada hari ini perlu dikonfirmasi untuk penembusan bawah level RM2.200 (Support 1), RM2.185 (Support 2), dan RM2.170 (Support 3). Sedangkan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.218 (Resisten 1), RM2.228 (Resisten 2) dan RM2.240 (Resisten 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)