JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelemahan harga CPO pada Senin (8/10/2018) yang berakhir turun 1,6% di level RM 2.185 per ton, berpotensi berlanjut pada Selasa (9/10/2018).

Hal itu dipicu sentimen kejatuhan harga minyak mentah, menguatnya ringgit dan antisipasi investor menjelang perilisan data suplai dan permintaan CPO bulan September dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB). 

Harga minyak WTI pada Senin turun sekitar 0,09% untuk ditutup di level $74.22 per barel karena ekspektasi bahwa ekspor minyak Iran akan terus berjalan setelah AS memberikan sanksi, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap suplai global. 

"Para pelaku pasar saat ini menantikan perilisan data pemerintah Malaysia untuk suplai, permintaan dan ekspor periode 1-10 Oktober," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Selasa.

Menurut survei Reuters, cadangan minyak sawit Malaysia kemungkinan turun pada September dari level tertinggi tujuh bulan pada Agustus karena pengiriman dari eksportir terbesar kedua di dunia dari komoditas melampaui pertumbuhan produksi untuk bulan September.  

--page

Adapun MPOB akan merilis data resmi pada Rabu. 

Terkait pergerakan CPO, pergerakan nilai kontrak Desember minyak kedelai di Chicago ditutup turun 0,9%.

Bagi pergerakan ringgit pukul 10.43 WIB terpantau naik 0,11% di level 4.1575 per dolar AS. Mata uang ringgit yang menguat akan membuat harga CPO menjadi lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. 

Untuk harga CPO kontrak Desember 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.199, dengan level tertingginya di RM2.205 dan level terendahnya di RM2.195 dengan harga saat ini sedang berada di level RM2.198.

"Potensi pelemahan pada hari ini perlu dikonfirmasi untuk penembusan bawah level RM2.190 (Support 1), RM2.180 (Support 2), dan RM2.165 (Support 3), dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.210 (Resisten 1), RM2.215 (Resisten 2) dan RM2.235 (Resisten 3)," kata Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)