BLOOMBERG –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO berpeluang melanjutkan pelemahannya pada Kamis (11/10/2018) pasca ditutup turun 0,5% di level RM 2.193 sehari sebelumnya di tengah berita melonjaknya cadangan minyak sawit Malaysia untuk September ke level tertinggi dalam delapan bulan.

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), cadangan minyak sawit di produsen dan eksportir terbesar kedua di dunia itu naik 1,5% dari bulan sebelumnya menjadi 2.54 juta ton. 

"Kenaikan cadangan dapat membebani harga CPO," kata Tim Analis PT MOnex Investindo Futures di Jakarta, Kamis. 

Kenaikan cadangan terjadi meski ekspor melonjak 47,2% dari bulan Agustus ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun di level 1,62 juta ton. Angka tersebut juga menandai untuk kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2006.

Namun, pelemahannya mungkin terbatas mengingat masih tingginya permintaan minyak karena pajak ekspor di level nol, yang dapat meningkatkan permintaan dari India dan China, ungkap David Ng, spesialis derivatives di Phillip Futures di Kuala Lumpur. 

--page

David juga menambahkan bahwa permintaan dari India mungkin akan meningkat menjelang perayaan Diwali di India pada awal November, sementara pelemahan mata uang ringgit membuat harga CPO menjadi lebih terjangkau untuk pembeli dari China. 

Malaysia memangkas pajak ekspor CPO untuk bulan September menjadi nol dari 4,5% pada Agustus. Mereka juga akan mempertahankan pajak nol untuk Oktober. 

Ringgit pukul 10.56 WIB terpantau melemah 0,14% di level 4.1590.

Untuk harga CPO kontrak Desember 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.2158, dengan level tertingginya di RM2.2166 dan level terendahnya di RM2.153. Harga saat ini sedang berada di level RM2.163.

"Potensi penguatan pada hari ini perlu konfirmasi untuk penembusan di atas level RM2.175 (Resisten 1), RM2.185 (Resisten 2), dan RM2.200 (Resisten 3). Jika harga berbalik melemah, harga berpotensi turun untuk menguji level RM2.155 (Support 1), RM2.145 (Support 2) dan RM2.130 (Support 3)," ungkap Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)