BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) membuat kinerja PT PP London Sumatra Indonesia Tbk pada tahun ini melamban.
Analis pesimistis kinerja perusahaan dengan kode emiten LSIP ini dapat membaik di akhir tahun, lantaran tipisnya peluang harga CPO mengalami rebound.
Akibat penurunan harga minyak sawit mentah, pendapatan LSIP turun sebesar 28,54% menjadi Rp1,76 triliun pada semester I tahun ini. Alhasil, laba bersih perusahaan ini turun sekitar 47%, menjadi senilai Rp224 miliar.
"Kinerja LSIP memang terseret harga CPO global yang bergerak dalam tren penurunan di enam bulan pertama 2018. Performa buruk harga CPO berlanjut hingga kuartal III tahun ini, sepanjang periode Juli hingga September, harga CPO terkoreksi 7,96%," kata analis Danareksa Sekuritas, Yudha Gautama, dalam risetnya akhir pekan ini.
Harga turun lantaran pasokan CPO yang saat ini melimpah tidak diimbangi dengan kenaikan permintaan. Selain itu, Yudha melihat efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China turut menambah sentimen negatif bagi harga komoditas perkebunan ini.
--page
"Ini akhirnya membuat CPO sebagai produk substitusi minyak kedelai juga ikut turun," papar dia.
Yudha masih melihat potensi kinerja LSIP di akhir tahun membaik.
"Penerapan kebijakan B20 akan memberi sentimen positif bagi emiten ini," ujar Yudha.
Hingga akhir tahun, lanjut Yudha, diprediksi harga CPO bisa kembali ke level RM2.550 per metrik ton. Harga CPO kontrak pengiriman Desember 2018 di Bursa Derivatif Malaysia masih di RM2.191 per metrik ton.
Yudha masih merekomendasikan beli untuk saham LSIP dengan target harga Rp2.000 per saham. (NEDELYA RAMADHANI/m)








