BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelemahan harga Crude Palm Oil (CPO) global masih menjadi tantangan bagi emiten sawit nasional, termasuk PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.
Penjualan perusahaan dengan kode emiten LSIP ini anjlok 10,8% pada kuartal II tahun ini. Namun, sejumlah sentimen diyakini dapat memperbaiki kinerja perseroan pada sisa akhir tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan hanya mencapai Rp894,9 miliar pada kuartal II tahun ini setelah pada periode yang sama tahun lalu mencapai Rp1 triliun. Penurunan tersebut dikarenakan harga CPO yang tergerus 32% sejak Januari 2017.
"Penurunan harga CPO memukul kinerja indeks sektor agribisnis, ditunjukkan dengan penurunan Bloomberg Agricultural Index sebesar 22,6% sejak awal 2017," kata analis NHK Korindo Sekuritas Indonesia, Joni Wintarja, dalam risetnya akhir pekan ini.
Namun, Joni meyakini kinerja LSIP akan membaik seiring kebijakan pemerintah untuk mengimplementasikan mandatori B20, atau bauran 20% minyak sawit pada bahan bakar sejak September 2018.
--page
"Dengan kian meningkatnya harga minyak mentah, maka implementasi program B20 akan terakselerasi. Kondisi ini akan berdampak positif pada outlook industri CPO nasional pada 2019 karena akan meningkatkan permintaan pada produsen," papar dia.
Selain itu, Joni mencatat pemerintah juga menerapkan larangan konsesi baru untuk perluasan perkebunan kelapa sawit selama 3 tahun ke depan. Kebijakan ini otomatis akan membatasi produksi CPO nasional.
"Kombinasi dampak positif dari pembatasan konsesi dan B20 akan mengerek kinerja LSIP mulai akhir tahun ini," ujar Joni,
Joni merekomendasikan buy untuk saham LSIP dengan target harga pada Desember 2019 sebesar Rp1.380. Pada penutupan perdagangan Rabu (24/10/2018), harga saham LSIP tercatat melemah 1,19% atau 15 poin ke level Rp1.245. (NEDELYA RAMADHANI/m)








