JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka berpotensi melonjak ke kisaran level resistance RM2.202 per ton dan kemudian mulai kembali memasuki tren pelemahan dari RM2.265.

Level resistance tersebut didukung level proyeksi 38,2% gelombang turun C dari RM2.265. Gelombang ini sepertinya belum tuntas. Ada kemungkinan bergerak ke level 2.099. Penurunan trendline itu juga mendukung target pembalikan di sekitar RM2.202. Bila tembus di atas RM2.202, yang sepertinya tidak akan terjadi, bisa memicu pada kenaikan ke RM2.226.

Menurut analis komoditas Reuters, Wang Tao, pembalikan ini bisa menjadi upaya terakhir penguatan untuk bertahan di atas level support kunci di RM2.144 pada chart harian, yang merupakan level proyeksi 100% dari gelombang besar (C) dari RM2.896. Pada akhirnya, harga CPO bisa menembus level RM2.144 dan turun menuju RM1.967. 

Sementara itu, pada perdagangan Senin (29/10/2018), harga CPO naik 2%, sekaligus menghentikan rentetan pelemahan dalam empat sesi sebelumnya. Penguatan itu didukung melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS dan koreksi teknikal.     

Harga CPO berjangka untuk kontrak Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 1,8% menjadi RM2.187 (US$523,46) per ton, yang merupakan kenaikan harian terbesar dalam dua pekan. (NEDELYA RAMADHANI/m)