BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pergerakan harga minyak sawit (CPO) sepertinya masih akan melemah hingga akhir tahun ini akibat sejumlah sentimen negatif yang beredar di pasar.
Salah satu sentimen yang menekan harga CPO adalah meningkatnya cadangan minyak sawit Malaysia. Berdasarkan survei Reuters, stok CPO Malaysia pada akhir Oktober diprediksi naik ke level tertinggi di level 3 juta ton seiring kenaikan produksi dan melambatnya permintaan ekspor.
Stok diperkirakan meningkat selama lima bulan berurutan, yaitu naik 14,1% dari September menjadi 2,90 juta ton, berdasarkan estimasi median oleh sejumlah analis dan pelaku pasar. Itu akan menjadi level tertinggi sejak November 2015, dan kenaikan bulanan tertajam dalam satu tahun.
Meningkatnya stok dapat semakin menekan harga acuan CPO berjangka, yang jatuh ke level terendah tiga tahun pada akhir pekan lalu. Harga CPO berjangka bergerak turun 0,7% menjadi RM2.139 (US$513,32) per ton pada sesi pertama perdagangan Senin (5/11/2018).
"Meningkatnya cadangan minyak sawit ini dipicu oleh melemahnya permintaan dari negara-negara pengimpor besar, seperti China dan India," kata seorang pelaku pasar di Jakarta, Selasa (6/11/2018).
--page
Survei menyebutkan ekspor diprediksi turun 13% menjadi 1,41 juta ton pada Oktober akibat persaingan dari produk yang lebih murah dari Indonesia dan juga melemahnya nilai tukar mata uang India, rupee, yang membuat impor menjadi lebih mahal.
Ekspor minyak sawit Malaysia ke India turun lebih dari 20% pada Oktober, menurut data Intertek Testing Services, sedangkan surveyor lain, Societe Generale de Surveillance, mematok angka penurunan sebesar 63%.
Sedangkan permintaan dari China diperkirakan akan turun pada akhir kuartal tahun ini seiring dengan masuknya musim dingin di negeri itu. Cuaca dingin seringkali membuat minyak sawit menjadi beku. Untuk itu, pembeli di China lebih memilih minyak nabati lain yang lebih tahan dingin. (NEDELYA RAMADHANI/m)








