JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang masih dalam tekanan turun pada Selasa (6/11/2018) di tengah ekspektasi tingginya cadangan minyak sawit pada Oktober dan melemahnya harga minyak mentah dunia. 

Dalam survei Reuters menunjukkan bahwa cadangan minyak sawit pada akhir Oktober diperkirakan akan naik ke level tertinggi dalam tiga tahun menuju hampir 3 juta ton di tengah kenaikan musiman dalam produksi dan turunnya permintaan ekspor. 

Cadangan diperkirakan akan naik untuk lima bulan beruntun, naik 14,1 persen dari September menjadi 2,9 juta ton, sementara ekspor diperkirakan akan turun 13 persen menjadi 1,41 juta ton. Untuk level produksi diperkirakan akan naik 5,7 persen menjadi 1,96 juta ton. 

Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI pada hari ini terpantau melanjutkan pelemahannya dari perdagangan Senin (5/11/2018) untuk menyentuh level $62,77 per barel akibat kekhawatiran atas melambatnya pertumbuhan ekonomi dan risiko kelebihan suplai global serta melonggarnya sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran. 

"Sentimen lainnya yang berpeluang memicu pelemahan harga CPO adalah jika ringgit Malaysia yang menguat di tengah sedang tertekannya dolar AS, yang dapat membuat harga CPO menjadi lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain," kata tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya, Selasa (6/11/2018). 

--page

Untuk harga CPO kontrak Desember 2018 pada hari ini dibuka di level RM2.145, dengan level tertingginya di RM2.145 dan level terendahnya di RM2.118. "Harga saat ini (sesi I perdagangan) sedang berada di level RM2.124," kata Monex.

Adapun potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi untuk penembusan di bawah level RM2.115 (Support 1), RM2.100 (Support 2), dan RM2.075 (Support 3). Dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.140 (Resisten 1), RM2.165 (Resisten 2) dan RM2.190 (Resisten 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)