JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Kamis (8/11/2018) setelah kemarin ditutup turun 0,1% di level RM2.111 per ton.

Penurunan itu dipicu oleh sentimen turunnya nilai ekspor CPO Indonesia di periode September dan merosotnya harga minyak mentah, kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya, Kamis.

Berdasarkan laporan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), volume ekspor turun sebesar 3 persen pada September menjadi 3,2 juta ton, dari bulan sebelumnya sebesar 2,2 juta ton. 

GAPKI dalam konferensi pers yang digelar medio pekan ini, mengatakan bahwa penurunan harga CPO telah membatalkan peningkatan volume ekspor karena harga minyak nabati lain, seperti kedelai, juga turun. 

Harga minyak kedelai turun ke level terendah sejak 2007 di tengah kebijakan Brasil, produsen terbesar kedelai, memangkas pajak ekspor pada komoditas ini, yang menekan turun harga minyak nabati, termasuk CPO. 

--page

Sementara itu, sentimen lain yang membebani harga CPO adalah anjloknya harga minyak mentah WTI, yang saat ini menyentuh level terendah di $61,62 setelah kemarin turun ke level terendah 8 bulan di $61,58 menyusul laporan Energy Information Administration bahwa cadangan minyak mentah AS naik 5,8 juta barel. 

"Untuk harga CPO kontrak Januari 2019 pada hari ini dibuka di level RM2.119, dengan level tertingginya di RM2.119 dan level terendahnya di RM2.096. Harga saat ini sedang berada di level RM2.096," kata tim Monex.

Menurut Monex, potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi menembus di bawah level RM2.090 (Support 1), RM2.075 (Support 2), dan RM2.050 (Support 3). Dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.110 (Resisten 1), RM2.125 (Resisten 2) dan RM2.145 (Resisten 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)