BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan harga CPO berpotensi masih berlanjut di hari terakhir perdagangan pekan ini (9/11/2018) setelah kemarin berakhir melemah 1,1% di level RM2.088 per ton. Ini membukukan pelemahan tiga hari beruntun karena kejatuhan nilai kontrak minyak kedelai dan kekhawatiran terhadap kenaikan produksi.
Trader di Kuala Lumpur mengatakan bahwa pelemahan harga CPO mengikuti pergerakan harga minyak kedelai di Amerika Serikat, yang melemah semakin dalam karena outlook kenaikan cadangan minyak kedelai AS.
Pada Kamis (8/11/2018), harga nilai kontrak minyak kedelai AS bergerak rendah, karena pasar yang gugup menunggu laporan perkiraan suplai dan permintaan terbaru dari Departemen Pertanian AS.
Pada saat penutupan, harga nilai kontrak minyak kedelai bulan Desember di Chicago turun 0,4%.
Sementara itu, untuk cadangan CPO, dalam sebuah survei Reuters menunjukkan produksi diperkirakan akan naik 5,7% menjadi 1,96 juta ton pada bulan lalu, dan untuk cadangan diperkirakan akan naik 14,1% menjadi 2,90 juta ton.
--page
"Untuk harga CPO kontrak Januari 2019 pada hari ini dibuka di level RM2.077, dengan level tertingginya di RM2.077 dan level terendahnya di RM2.057. Harga saat ini sedang berada di level RM2.058," kata tim analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya akhir pekan ini.
Potensi pelemahan pada hari ini perlu konfirmasi untuk penembusan di bawah level RM2.050 (Support 1), RM2.035 (Support 2), dan RM2.020(Support 3), dan jika harga berbalik menguat, harga berpotensi naik untuk menguji level RM2.065 (Resisten 1), RM2.080 (Resisten 2) dan RM2.100 (Resisten 3). (NEDELYA RAMADHANI/m)








