BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Turunnya permintaan minyak sawit dunia belakangan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama melemahnya nilai tukar rupee India terhadap dolar AS.
Jika ringgit Malaysia melemah akan membantu mendongkrak harga CPO karena akan membuat komoditas ini lebih murah bagi pemegang mata uang asing, tapi tidak demikian dengan rupee yang melemah. Saat rupee melemah terhadap dolar AS, maka daya beli importir terbesar minyak nabati itu akan melemah, yang memicu penurunan permintaan untuk minyak nabati, termasuk minyak sawit, kata regional head of plantations research CIMB Investment Bank Bhd, Ivy Ng, seperti dikutip The Star, Selasa (13/11/2018).
Selain itu, India juga telah menaikkan bea masuk untuk CPO menjadi 44% dari 30%, yang dikenakan pada awal tahun ini. Sedangkan bea masuk untuk minyak sawit olahan naik menjadi 54% dari 40%, yang dimaksudkan untuk melindungi para petani lokal.
“India adalah pembeli terbesar minyak sawit dunia, dan dengan beberapa faktor tersebut, maka mau tidak mau harga minyak sawit harus diturunkan agar tetap terserap oleh pasar India,” kata Ng.
Menurut dia, dengan meningkatnya stok minyak sawit, terutama di Malaysia, dan juga bertambahnya cadangan minyak kedelai, maka tak ada alasan bagi para pembeli untuk terburu-buru melakukan pembelian.
--page
“Jadi, faktor harga yang rendah dapat menjadi alasan untuk menambah permintaan terhadap minyak sawit," ucapnya.
“Satu-satunya faktor pendukung bagi harga minyak sawit saat ini adalah kebijakan mandatori biodiesel, dan berbagai upaya untuk menggunakan biodiesel menggantikan diesel di berbagai negara, seperti Indonesia. Tapi cara ini butuh waktu,” imbuhnya.
Sementara itu, data terbaru menyebutkan bahwa ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 November meningkat 4,5% menjadi 310.592 ton, dari 297.265 ton pada periode 1-10 Oktober. )NEDELYA RAMADHANI/m)








