BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan yang terjadi pada harga minyak sawit mentah (CPO) tak hanya menjadi perhatian dua negara produsen minyak sawit terbesar dunia, yakni Indonesia dan Malaysia, tapi juga oleh Thailand sebagai penghasil komoditas ini di kawasan ASEAN.
Juru bicara Pemerintah Thailand, Buddhipongse Punnakanta, di Bangkok medio pekan ini menjelaskan bahwa Negeri Gajah Putih itu kini tengah meluncurkan tiga kebijakan untuk meredam penurunan harga CPO, salah satunya menggunakan minyak sawit untuk menghasilkan listrik.
Menurut Punnakanta, 160.000 ton minyak sawit akan digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik. Cara itu dinilai efektif untuk mengurangi stok CPO yang meningkat di negeri itu.
Langkah kedua untuk mengikis menumpuknya stok minyak sawit adalah meningkatkan volume ekspor minyak sawit hingga enam bulan ke depan, yaitu sampai dengan Mei tahun depan.
Upaya terakhir adalah dengan menaikkan rasio pemakaian minyak sawit dalam produksi biodiesel B20 dari 6,5% menjadi 7%. Bahkan, menurut Punnakanta, jika angkutan truk diwajibkan untuk menggunakan biodiesel B20, sektor ini akan menyerap 10 juta liter biodiesel pada tahun depan.
--page
Sebuah komisi yang diketuai Wichai Phochanakij, yang juga direktur jenderal di Kementerian Perdagangan Thailand, akan menindaklanjuti usulan itu dan menganalisis dampak dari kebijakan tersebut.
Sementara itu, harga CPO untuk kontrak pengiriman November telah melorot ke level terendah sejak September 2015 di kisaran RM2.034 per ton medio pekan ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)








