JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski harga minyak sawit mentah (CPO) terus menurun belakangan ini, tapi analis Alam Lim dari MIDF Research masih mempertahankan proyeksi harga rata-rata sebesar RM2.400 per ton untuk 2018.

Saat ini harga CPO berada di kisaran RM2.000 per ton, atau yang terendah sejak September 2015 silam. Menumpuknya stok minyak sawit di Malaysia dan Indonesia dinilai sebagai pemicu penurunan harga, di tengah melambatnya kinerja ekspor.     

Sedangkan analis dari Kenanga Research memperkirakan harga CPO akan bangkit ke level RM2.200 hingga RM2.250 pada Desember berkat dukungan penurunan produksi musiman dan juga kebijakan mandatori biodiesel B20 di sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Thailand, serta komitmen China untuk meningkatkan impor CPO dari Malaysia dan Indonesia.

Sejumlah analis masih mengkhawatirkan tinginya stok minyak sawit, yang diprediksi naik 8 persen m-o-m menjadi 2,72 juta ton pada Oktober. Tingginya stok CPO tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya produksi dan rendahnya ekspor.

Analis dari Affin Hwang Investment Bank Bhd menyebutkan kenaikan produksi CPO pada Oktober adalah kenaikan produksi tertinggi dalam 12 bulan terakhir di Malaysia.

--page

Meski ekspor melambat pada Oktober, Kenanga Research melihat melonjaknya ekspor ke China, yang tumbuh 94,2 persen secara bulanan, kemungkinan sebagai indikasi negeri itu mulai melaksanakan komitmennya untuk menambah kuota impor.

“Sedangkan menurunnya ekspor ke India (anjlok 56,5 persen m-o-m) dan ke Uni Eropa (melorot 27,2 persen m-o-m), tetap perlu dicatat bahwa pembelian kumulatif hingga Oktober 2018 dari India dan Uni Eropa masih meningkat masing-masing sebesar 9 dan 2 persen year on year."

“Walaupun produksi meningkat dan potensi membaiknya harga CPO dalam beberapa bulan ke depan, kami tetap mempertahankan sikap netral untuk sektor perkebunan karena ketidakpastian akibat perang dagang masih mengemuka, yang masih akan memberikan sentimen negatif ke pasar," kata Kenanga Research. (NEDELYA RAMADHANI/m)