JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diperkirakan bergerak di sekitar level resistance di RM1.996 per ton, dan kemudian menguji kembali support di RM1.972.

Perkiraan itu diungkapkan analis energi dan komoditas Reuters, Wang Tao, akhir pekan ini mengacu pada masih melimpahnya cadangan minyak sawit di Malaysia dan Indonesia seiring dengan pulihnya produksi.

Stok CPo di Malaysia pada akhir Oktober meningkat 7,6 persen dari bulan sebelumnya menjadi 2,72 juta ton, sementara produksi naik 6 persen menjadi 1,96 juta ton, berdasarkan data resmi dari Dewan Minyak Sawit Malaysia.

Persediaan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut baik di Indonesia maupun Malaysia dalam bulan-bulan mendatang, dengan permintaan tidak akan mengalami lonjakan dari negara-negara importir besar, seperti China, karena memasuki musim dingin, minyak sawit cenderung membeku. Untuk itu, negara-negara importir yang memasuki musim dingin lebih memilih minyak nabati jenis lain yang lebih tahan beku.

Untuk diketahui, harga CPO berjangka Malaysia pada perdagangan Kamis (15/11/2018) berjuang untuk pulih setelah anjlok ke level terendah dalam tiga tahun di sesi sebelumnya.

--page

Harga CPO acuan untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,05 persen pada RM1.972 ($ 470,98) per ton pada sesi pertama perdagangan Kamis. Itu merupakan level terendah sejak Agustus 2015 di level RM1.965 pada Rabu dan telah menurun sekitar 8,5 persen dalam tujuh sesi sebelumnya.

Sedangkan untuk ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1 - 15 November, naik 2 persen dari bulan sebelumnya menjadi 549.488 ton.

Impor minyak sawit oleh India kemungkinan tidak akan naik pada November hingga Januari, bahkan ketika harga untuk komoditi tersebut mencapai titik terendahnya dalam lebih dari tiga tahun. Hal itu terjadi karena pasokan lokal yang berlimpah untuk minyak nabati pesaing sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)