PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Virus rabies terdapat pada susunan syaraf pusat (otak) juga terdapat pada semua hewan penderita rabies, sehingga penularan rabies pada manusia atau hewan lain terjadi melalui gigitan hewan penderita rabies atau luka yang terkena air liur manusia atau hewan yang menderita rabies.

"Khusus untuk manusia, untuk mengetahui tanda rabies pada manusia, yang pertama harus diperhatikan adalah riwayat gigitan oleh hewan seperti anjing atau hewan penular rabies (HPR) lain seperti kucing dan kera," kata Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Hewan (Keswan), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono, Senin (19/11/2018).

Pada manusia stadium permulaan, menurut drh Eko, gejalanya sulit untuk diketahui. Namun biasanya didahului sakit kepala, lesu, mual, nafsu makan menurun, gugup dan nyeri pada luka bekas gigitan.

"Pada stadium lebih lanjut, penderita akan mengalami kondisi air liur dan air mata yang keluar secara berlebihan," jelasnya.

Selain itu, kepekaan terhadap sinar dan suara angin akan semakin meninggi.

"Ciri khas dari penderita rabies adalah rasa takut yang berlebihan pada air serta kejang-kejang yang disusul dengan kelumpuhan," tambahnya.

Pada umumnya, penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala atau tanda-tanda pertama timbul. (TESTI PRISCILLA/B-6)