BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berlimpahnya pasokan minyak sawit mentah (CPO) telah menyeret harga jual CPO ke level terendah sejak 2015, tapi prospek saham berbasis perkebunan masih cukup cerah untuk jangka panjang.
"Kami masih optimistis dalam jangka panjang, prospek saham emiten CPO bisa bergerak positif. Kalau kita lihat tren harga CPO sejak 2015 hingga saat ini, masih cenderung dalam tren bearish. Secara rata-rata, itu masih belum berpengaruh signifikan pada kinerja emiten CPO Indonesia," kata analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, dalam risetnya, Rabu (21/11/2018).
Kinerja emiten CPO, menurut Nafan, tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen global, tapi juga lokal, sehingga meskipun harga CPO global turun, permintaan dari domestik masih kondusif.
“Harga saat ini masih bersahabat sehingga diyakini tidak akan mengganggu penjualan produk produk CPO dan turunannya. Kalau dilihat dari local demand, memang tren konsumsi CPO masih cenderung stabil, ditambah lagi dengan kebijakan B20 dari pemerintah," papar dia.
Selain itu, tren harga CPO sangat dipengaruhi oleh pergerakan atau permintaan minyak global. Jadi, saat harga minyak kembali naik, itu bisa menjadi momentum bagi harga CPO untuk ikut tumbuh.
--page
Permintaan CPO dari eksternal juga diyakini bakal meningkat seperti dari Bangladesh, Tiongkok dan India, seiring kenaikan harga minyak.
"Yang terpenting, selama Indonesia dan Malaysia mampu meningkatkan kapasitas produksi, emiten CPO masih memiliki prospek positif ke depan," ujar Nafan.
Untuk jangka menengah atau tiga bulan ke depan, Nafan menargetkan harga CPO Malaysia akan kembali rebound ke harga RM2.030. Angka tersebut naik dari estimasi awal yang hanya RM2.150.
Adapun saham yang menarik untuk dilirik untuk jangka panjang adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).
"Kedua saham tersebut sudah bisa akumulasi beli dari sekarang, terutama untuk LSIP dengan prospek jangka panjang di target harga Rp10.650," tutur Nafan.
--page
Saham LSIP cenderung dianggap lebih menarik lantaran baik dari teknikal maupun fundamental, saham emiten tersebut masih cukup positif. Terlebih, emiten sudah bisa memanfaatkan kenaikan kinerja penjualan dari kebijakan B20 dan terus memaksimalkan kinerja ekspornya.
Sedangkan untuk AALI, untuk jangka pendek target harga sahamnya bisa mencapai Rp11.025, menyusul jangka menengah Rp12.350 dan untuk jangka panjang sekaligus target paling optimistis yakni Rp13.800.
"November ini, saham AALI sudah mengalami double bottom di Rp10.100 dan Rp10.200. Seharusnya, ini membuat harga AALI selanjutnya rebound untuk selanjutnya menguat, tercepat dalam jangka menengah atau tiga bulan," kata Nafan. (NEDELYA RAMADHANI/m)








