BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka memberikan 'kejutan' menjelang medio pekan ini setelah mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (18/12/2018), sehingga menyetuh level tertinggi enam pekan.
Pelaku pasar di Jakarta, Rabu (19/12/2018), mengatakan harga CPO berjangka di bursa Malaysia naik lebih dari 1 persen, Selasa, dan kenaikan ini lebih dipengaruhi oleh penguatan harga minyak kedelai acuan AS di Chicago serta didukung prospek menurunnya produksi.
Pada perdagangan Selasa, minyak sawit acuan kontrak pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat 1,5 persen menjadi RM2.153 ($516) per ton, setelah sempat menanjak hingga ke level RM2.158, yang merupakan level tertinggi sejak 1 November 2018.
Produksi minyak sawit biasanya akan menurun pada akhir tahun setelah mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober. Produksi minyak sawit Malaysia pada November turun 6 persen menjadi 1,85 juta ton, turun dari produksi puncak tahun ini di level 1,96 juta ton pada Oktober.
Untuk minyak nabati lain, minyak kedelai Chicago kontrak Januari naik 0,6 persen, sedangkan minyak kedelai kontrak Januari di Dalian Commodity Exchange menguat 0,7 persen. Adapun harga minyak sawit kontrak Januari di Dalian naik 0,1 persen.
--page
Harga minyak sawit dipengaruhi oleh perubahan harga minyak kedelai, karena kedua jenis minyak nabati ini bersaing di pasar.
Analis pasar Reuters, Wang Tao, mengatakan minyak sawit kemungkinan akan menguji level resistance di RM2.150 per ton, dan bila menembus di atas level tersebut dapat mendorong menguat ke RM2.180. (NEDELYA RAMADHANI/m)








