JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Memasuki perdagangan akhir pekan ini, harga minyak sawit mentah (CPO) sepertinya masih akan melanjutkan pelemahannya seiring dengan bermunculannya sentimen negatif di pasar.

Pelaku pasar di Bursa Berjangka Jakarta mengatakan, Jumat (21/12/2018), bahwa melemahnya harga minyak kedelai di AS dan aksi ambil untung masih mewarnai perdagangan akhir pekan ini setelah harga CPO sempat melonjak ke level tertinggi delapan pekan pada medio pekan ini ke level RM2.198 ($526,21) per ton.

Pada perdagangan Kamis (20/12/2018), harga CPO berjangka acuan di bursa Malaysia melemah 1,4 persen pada sesi perdagangan kedua, yang terimbas pelemahan harga minyak kedelai dan profit taking.

Untuk harga minyak kedelai berjangka jatuh ke level terendah tiga pekan, Kamis, akibat prospek membaiknya produksi di Amerika Selatan, yang meredupkan kebijakan China yang menambah volume impor dari AS. 

Sentimen negatif lainnya adalah menurunnya harga minyak mentah sekitar 5 persen, hingga menyentuh level terendah dalam lebih setahun akibat kelebihan pasok dan outlook permintaan energi di tengah dampak kenaikan suku bunga acuan AS terhadap kinerja bursa saham, yang membuat mayoritas bursa global memerah.

--page

Ada juga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga, seperti produksi minyak sawit Indonesia yang menurun, tetapi kinerja ekspor juga melemah. Kemudian rencana China untuk menambah impor minyak kedelai dari AS, meski pada saat yang sama negeri itu juga berencana menambah impor minyak sawit dari Malaysia. (NEDELYA RAMADHANI/M=M)