JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri kelapa sawit masih akan terus mengalami beratnya struktur biaya, yang diprediksi akan menghambat performa sektor ini memasuki 2019.

Dalam risetnya medio pekan ini, MIDF Amanah Investment Bank Bhd (MIDF Research) menyebutkan struktur biaya para pemain di industri minyak sawit Malaysia akan mengurangi daya saing di pasar global, terutama menghadapi para pesaing dari Indonesia dan juga industri minyak nabati jenis lain, terutama minyak kedelai.

“Ditambah dengan biaya untuk memenuhi syarat mendapatkan sertifikasi RSPO dan MPSO, struktur biaya yang dihadapi para pemain di industri CPO Malaysia bisa mengarah pada isu berkelanjutan,” kata MIDF Research melalui Outlook 2019.

Dampaknya terlihat dari buruknya kinerja sejumlah perusahaan di industri pengolahan minyak sawit selama 2018, yang dipicu oleh jatuhnya harga minyak sawit mentah (CPO).

Sedangkan Public Investment Bank Bhd (Public Invest Research) melihat harga CPO berjangka Malaysia sempat solid di kisaran harga RM2.500 per MT dan diperdagangkan sedikit melemah dalam lima bulan pertama tahun ini.

--page

Sejak itu, harga CPO terus menurun, yakni jatuh dari RM2.400 per MT menjadi RM2.100 per MT, atau melemah lebih dari 13 persen.

Performa harga CPO pada November menjadi perhatian dunia karena jatuh hingga di bawah level psikologis RM2.000 per MT untuk pertama kalinya sejak Agustus 2015.

Itu juga menjadi salah satu kejatuhan bulanan terdalam dalam sejarah, yakni turun 8 persen month on month (m-o-m) menjadi RM1.743, sedangkan harga CPO berjangka merosot ke level terendah tiga tahun di angka RM1.972 per MT.

“Melemahnya harga spot CPO mengindikasikan bahwa pesimisme yang terjadi di pasar saat ini lebih parah daripada yang diperkirakan,” kata Public Invest Research dalam outlook sektor sawit 2019. (NEDELYA RAMADHANI/m)