JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mengawali perdagangan awal pekan ini, para pelaku pasar di bursa berjangka Malaysia dan Indonesia masih bersikap hati-hati untuk bertransaksi beli minyak sawit mentah (CPO) berjangka seiring dengan belum adanya sentimen positif kuat untuk mendongkrak harga komoditas ini.

Sentimen negatif yang beredar di pasar sejak akhir pekan lalu meliputi data cadangan minyak sawit di Malaysia untuk Desember, produksi dan kinerja ekspor, kata pelaku pasar di Jakarta, Senin (14/1/2019).

Untuk diketahui, harga acuan minyak sawit kontrak pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,9 persen menjadi RM2.163 ($528,21) per ton pada penutupan perdagangan Kamis (10/1/2019), yang merupakan penurunan harian terbesar sejak 26 Desember 2018.

Data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyebutkan stok CPO meningkat 6,9 persen pada Desember dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 3,21 juta ton.

Menurut data Refinitiv Eikon, stok CPO ini adalah yang tertinggi dalam sekitar 19 tahun terakhir.

--page

Sedangkan produksi pada Desember turun 2 persen dari bulan sebelumnya menjadi 1,81 juta ton, dan ekspor naik 0,6 persen dari November menjadi 1,38 juta ton.

Survei Reuters sebelumnya telah memprediksi stok minyak sawit per akhir Desember meningkat 4,3 persen menjadi 3,14 juta ton, sedangkan produksi turun 3,6 persen menjadi 1,78 juta ton. Untuk ekspor diproyeksi naik 4,7 persen menjadi 1,44 juta ton.

Analis pasar Reuters, Wang Tao, menyebut harga minyak sawit bisa turun ke level RM2.150 per ton setelah kembali gagal menembus resistance di RM2.198 per ton.

Untuk minyak nabati jenis lain, harga minyak kedelai untuk kontrak Maret di Chicago turun 0,03 persen, sementara harga minyak kedelai kontrak Maret di Dalian Commodity Exchange turun 0,2 persen.

Sementara itu, kontrak minyak sawit Januari di Dalian menguat 1,2 persen.

--page

Untuk itu, kata pelaku pasar tadi, untuk awal pekan ini pergerakan harga CPO akan berada di kisaran sempit karena pasar masih dipayungi sentimen negatif. Meski ada sentimen positif yang muncul dari pergerakan positif harga minyak mentah di pasar Asia.

Harga minyak naik tipis pada awal perdagangan di Asia pada Senin pagi ini, didukung oleh pengurangan pasokan dari OPEC dan Rusia serta penurunan aktivitas pengeboran di AS.

Minyak mentah berjangka jenis Brent berada di level US$60,75 per barel pada pukul 00.40 GMT (07.40 WIB), naik 27 sen AS atau 0,5 persen, sedangkan minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik 22 sen AS atau 0,4 persen, menjadi US$51,81 per barel.

Perusahaan riset ekonomi TS Lombard mengatakan harga minyak cenderung stabil di sekitar level saat ini dan sangat mungkin bergerak naik, mengacu pada penurunan pasokan dari OPEC dan beberapa negara non-OPEC, termasuk Rusia. (NEDELYA RAMADHANI/m)