JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Para produsen minyak sawit dunia telah berkomitmen menghasilkan komoditas berkelanjutan. Tapi di sisi lain, konsumen enggan membayar lebih untuk produk yang sudah bersertifikasi.

Produksi minyak sawit berkelanjutan melonjak ke level tertinggi sebesar 13,6 juta metrik ton per tahun, atau sekitar 20 persen dari produksi global. Namun dari jumlah itu, hanya separuhnya yang dipasarkan sebagai produk berkelanjutan, sementara sisanya masih belum bersertifikasi.

Pemicunya adalah mahalnya biaya untuk memproduksi dan juga tingginya harga untuk produk bersertifikasi, kata Sime Darby Plantation Bhd., perusahaan minyak sawit raksasa yang berbasis di Malaysia.

"Para pembeli enggan membayar tinggi," ujar Simon Lord, chief sustainability officer di Sime Darby, seperti dilansir WCT awal pekan ini.

Ini tentu menjadi dilema bagi para produsen minyak sawit, karena di satu sisi harus menghasilkan produk yang berkelanjutan, tapi di sisi lain harus bisa menekan harga agar produk tersebut bisa terserap pasar. Masalahnya, produk yang tak bersertifikasi internasional bakal sulit menembus pasar Uni Eropa dan negara-negara Barat lainnya.  

--page

Untuk harga minyak sawit tersertifikasi boasanya berharga lebih mahal sekitar $30 per ton dibandingkan dengan minyak sawit tanpa sertifikasi, meski ini bisa bergantung pada volume dan negosiasi antara pembeli dan penjual juga. 

Untuk mendapatkan sertifikat berkelanjutan, produsen harus mengeluarkan sekitar $8 hingga $12 per ton, dan ditambah lagi dengan beragam biaya lain, meliputi biaya audit, logistik dan kajian lingkungan.

"Perusahaan penghasil minyak sawit biasanya menjual produk bersertifikasi di bawah biaya yang dikeluarkan, daripada produk tersebut menumpuk tanpa pembeli," kata Oscar Tjakra, analis senior untuk komoditas di Rabobank International.

"Sejumlah perusahaan menanggung rugi akibat tingginya biaya produksi dan financing, belum lagi biaya untuk mendapatkan sertifikasi berkelanjutan," ucap Tjakra. (NEDELYA RAMADHANI/m)