JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada akhir pekan lalu mencapai level tertinggi dalam lebih dari tujuh bulan di tengah optimisme terhadap penurunan stok minyak sawit di sejumlah negara penghasil utama komoditas ini.

Menjelang penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga CPO berjangka naik RM35 menuju RM2.341 per ton, yang merupakan level tertinggi sejak 28 Juni 2018 yang berada di level RM2.343, menurut data Bloomberg.

“Menurunnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia memberikan fundamental kuat terhadap harga minyak sawit,” kata Sathia Varqa dari Palm Oil Analytics di Singapura. 

Data dari Indonesia menyebutkan penurunan stok pada Desember, yang menambah momentum penguatan harga CPO, selain juga didukung oleh menguatnya harga minyak kedelai.

Pandangan positif dari analis terkemuka, Dorab Mistry, semakin mencerahkan prospek harga komoditas ini, sebut Varqa. 

--page

Mistry pada medio pekan lalu mengatakan bahwa harga minyak sawit bisa menguat ke level RM2.400 per ton pada akhir Maret.

Cadangan minyak sawit Indonesia merosot 16% month-on-month menjadi 3,26 juta ton pada Desember seiring menurunnya volume produksi. 

Survei Bloomberg menyebutkan total stok minyak sawit pada Desember adalah yang terendah sejak September 2017 dan lebih rendah dari proyeksi sebesar 3,65 juta ton.

Sedangkan stok di Malaysia diprediksi turun 6% pada Januari month-on-month menjadi 3,03 juta ton, berdasarkan survei Bloomberg.

Harga CPO berjangka di Malaysia bisa menguat ke level RM2.400 pada akhir Maret jika ringgit masih di level sekarang, kata Mistry. (NEDELYA RAMADHANI/m)