BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan medio pekan ini, harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi mengalami tekanan dari menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia dan mata uang utama dunia lain terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia, termasuk rupiah, mendapat sentimen positif dari melemahnya dolar AS seiring ekspektasi terjadinya kesepakatan antara Amerika Serikat dan China untuk mengatasi ketegangan perdagangan di antara keduanya.
"Nilai ringgit Malaysia yang menguat membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain," kata pelaku pasar di Jakarta, Rabu (20/2/2019).
Estimasi tertahannya laju pelemahan harga CPO akan melanjutkan pergerakan negatif yang terjadi pada perdagangan Selasa (19/2/2019).
Adapun harga CPO kontrak Mei di Bursa Derivatif Malaysia anjlok 1,1% ke posisi RM2.260 per ton atau setara dengan US$553,9 per ton pada penutupan perdagangan Selasa. Kondisi itu merupakan pembalikan arah dari perdagangan sehari sebelumnya yang melonjak 1,42%.
--page
Namun demikian, dalam sepekan, harga CPO telah menguat sebesar 0,44%, dan sejak awal 2019, harga masih melaju naik sebesar 6,55%.
Selain karena menguatnya ringgit, produksi sawit pada Januari yang turun sekitar 4%, belum mampu mendorong penguatan karena penurunannya tidak sebesar tahun sebelumnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








