PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Walau harus menjalani hukuman akibat penyalahgunaan narkoba, ternyata membawa perubahan yang positif bagi Ibnu Rajib (27) warga binaan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Pemuda yang sebelum menjadi penghuni Lapas berprofesi sebagai seniman tato ini ternyata menemukan media yang berbeda untuk menyalurkan bakat seninya.

"Awalnya saya coba-coba saja, mencoba melukis potret wajah dengan teknik pyrography atau seni lukis bakar yang memanfaatkan media kayu sebagai tempat melukis dan alat semacam solder untuk memggoreskan gambar," jelas Rajib saat ditemui borneonews.co.id di workshop Lapas Kelas II B Pangkalan Bun, Sabtu (23/2/2019).

Saat ia mengutarakan niatnya untuk melukis dengan teknik tersebut kepada petugas Lapas, ternyata direspon positif.

"Saya kemudian dibantu untuk membuat alat lukis yaitu jarum suntik yang dibuat khusus agar bisa menyala, mengeluarkan titik api kecil lantaran arus pendek dari kabel adaptor. Untuk mudahnya tekniknya sama seperti cara kerja solder listrik," jelasnya.

--page

Setelah beberapa kali melakukan percobaan, akhirnya dia berhasil membuat goresan gambar diatas peemukaan kayu.

"Saya kemudian menggambar potret diatas bidang kayu yang berwarna putih seperti kayu pulai, kayu nangka atau kayu pantung. Namun karena hanya kayu tersebut yang bagus untuk digambar, maka saya sering kesulitan mendapatkan bahan baku," imbuhnya.

Ternyata di luar dugaan, hasil karyanya tersebut banyak diminati petugas dan pejabat dari berbagai instansi vertikal dan pemerintahan dilingkungan Pemkab Kobar serta swasta.

"Alhamdulillah hasil karya saya banyak diminati orang. Bila dibandingkan dengan profesi saya sebelumnya yaitu seniman tato, memggambar diatas bidang kayu agak sedikit susah. Lantaran tidak ada cara untuk menghapus goresan yang salah bila sudah digambar. Jadi agak sedikit lebih sulit bila dibandingkan dengan menggambar tato ke kulit manusia," jelas Rajib yang sudah menjalani 2,5 tahun dari masa tahanan 8 tahun.

Selain itu warna yang dihasilkan dari lukisan pyrography hanya warna sephia saja, hasil pembakaran ujung jarum suntik ke bidang kayu.

--page

"Saat ini untuk menggambar satu potret wajah saya memerlukan waktu sekitar 4-5 jam. Kemudian untuk harganya satu gambar potret biasanya dihitung Rp150 ribu per wajah," katanya.

Sementara itu Kepala Lapas Kelas II B Pangkalan Bun Kusnan menjelaskan, lantaran keunikan karya yang dihasilkan Rajib, rencananya sekitar April 2019 akan diberangkatkan mengikuti kompetisi inovasi antar narapidana seluruh Indonesia yang digelar oleh Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta.

"Selain Rajib selama ini dianggap berkelakuan baik selama menjalani masa hukuman, keahliannya tersebut bisa dikatakan tergolong langka. Inilah yang membuatnya terpilih mengikuti kompetisi tersebut mewakili Provinsi Kalteng. Sedangkan satu narapidana lagi masih dalam proses seleksi dari seluruh Lapas di Kalteng," jelasnya.

Menurut Kusnan, sebenarnya banyak sekali bakat-bakat seni dan berbagai hal lain ditemukan dari narapidana yang menjadi binaanya.

"Sebenarnya banyak di antaranya mereka orang yang cerdas dan berbakat. Namun lantaran salah bergaul, akhirnya mereka terjerumus melakukan perrbuatan yang negatif seperti narkoba. Untuk itulah fungsi Lapas untuk membina mereka lagi kearah yang positif. Sebenarnya  mereka bisa saja berkreasi dalam hal apapun, tanpa menggunakan narkoba. Itulah yang mereka buktikan secara langsung di sini," tandasnya. (YUDA/B-6)