BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pembicaraan yang kondusif antara Amerika Serikat dengan China membahas kisruh perdagangan di antara mereka, dinilai akan memberikan sentimen negatif terhadap harga minyak sawit.
"Kabar ini (pembicaraan antara AS dengan China) tak bagus bagi minyak sawit, karena China akan membeli kedelai seiring dengan meredanya ketegangan. Imbasnya, itu akan mengurangi impor minyak sawit," kata seorang pelaku pasar di Jakarta, Selasa (26/2/2019).
Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu mengatakan pihaknya akan menunda kenaikan tarif terhadap barang-barang dari China menyusul pembicaraan perdagangan yang produktif. Rencananya, Trump akan bertemu dengan mitranya, Presiden China Xi Jinping, jika ada kemajuan dalam pembicaraan perdagangan tersebut.
Kementerian Pertanian AS juga mengatakan China telah berjanji untuk menambah kuota impor kedelai AS sebanyak 10 juta ton.
China mengimpor kedelai dari AS untuk dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak, sementara minyaknya diolah sebagai minyak makan. Jika demikian, ada kemungkinan China akan mengurangi pembelian minyak sawit.
--page
Harga minyak sawit memang kerap dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lain, termasuk minyak kedelai, karena komoditas ini bersaing di pasar global.
Harga minyak sawit kemungkinan menembus level support di RM2.237 per ton dan bisa turun ke level support berikutnya di RM2.214, kata Wang Tao, analis pasar untuk komoditas dan energi dari Reuters. (NEDELYA RAMADHANI/m)








