JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak mentah berjangka naik tipis pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah diberitakan bahwa OPEC akan melanjutkan pengurangan produksi.

Pada awal pekan ini, harga turun lebih dari 3,5 persen, yang merupakan persentase penurunan harian terbesar tahun ini, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengurangi upayanya untuk mendongkrak harga minyak.

Sebuah sumber OPEC mengatakan kepada Reuters bahwa mereka akan tetap pada komitmen dan mendorong para anggotanya untuk mematuhi komitmen itu guna memperketat pasokan minyak mentah.

Adapun harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 0,45 dolar AS menjadi ditutup pada 65,21 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Sedangkan minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman April, naik 0,02 dolar AS menjadi stagnan di level 55,50 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

"Kenaikan harga minyak mentah ini sebenarnya mampu memberikan sentimen positif terhadap pasar komoditas, termasuk minyak sawit. Pasalnya, minyak sawit dijadikan bahan campuran untuk pembuatan biofuel," kata pelaku pasar di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

--page

Apalagi Pemerintah Indonesia terus menggalakkan pemakaian biodiesel di semua sektor transportasi, yang diharapkan dapat mempercepat penyerapan stok minyak sawit yang menumpuk.

Namun demikian, potensi membaiknya hubungan dagang antara AS dengan China justru akan memukul harga minyak sawit, karena dengan pulihnya hubungan dagang kedua negara itu, China dapat menambah impor kedelai dari AS. Kondisi ini jelas akan memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit, yang menjadi rival minyak kedelai di pasar minyak nabati global.

Ditambah lagi dengan tren menguatnya nilai tukar mata uang utama dunia terhadap dolar AS, termasuk ringgit Malaysia, akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli pemegang mata uang dolar. (NEDELYA RAMADHANI/m)