PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) yang masih terhitung rendah, telah mempengaruhi kinerja sejumlah emiten sawit, termasuk PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Saat ini, ada beberapa faktor yang bisa mendorong harga CPO kembali naik. Pertama, ada kemungkinan produksi CPO tahun ini lebih rendah dibanding tahun lalu, kondisi ini akan membantu mengurangi beban tingkat persediaan CPO yang cukup tinggi.

Kedua, secara historikal, permintaan CPO akan meningkat di bulan Ramadan hingga hari raya Idul Fitri. Tahun ini, Ramadan dan Idul Fitri jatuh pada kuartal II, karena permintaan di periode tersebut bertambah, harga CPO berpotensi naik.

Ketiga, katalis positif dari program B20 yang dicanangkan pemerintah. 

Analis MNC Sekuritas, Krestanti Nugrahane Widhi, menilai kebijakan pemerintah mewajibkan penggunaan campuran biodiesel dalam bahan bakar hingga 20% akan mendorong konsumsi CPO Indonesia. 

--page

"Alokasi volume pengadaan biodiesel untuk pelaksanaan program tersebut mencapai sebesar 6,20 juta kiloliter. Hal ini akan menjadi katalis positif bagi AALI," kata Krestanti dalam risetnya.

Keempat, negosiasi pajak impor yang lebih rendah dengan India sebagai tujuan ekspor minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia. India kabarnya memperluas kebijakan tersebut tidak hanya untuk Malaysia, tapi juga dengan negara Asia Tenggara lain (Asean).

Dengan asumsi harga CPO bisa menguat, analis memprediksi kinerja AALI tahun ini akan positif. Apalagi, emiten sawit ini juga sudah menerapkan sistem teknologi informasi (TI) berbasis aplikasi dalam proses produksi.

Pengembangan sistem TI ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi AALI, termasuk dalam hal efisiensi. Sistem ini antara lain diharapkan bisa mengatasi masalah pada antrean tandan buah segar (TBS) yang masuk dari perkebunan sebelum diolah.

Bila efisiensi berhasil, analis menargetkan laba bersih AALI bisa membaik. Sekadar informasi, sepanjang 2018 lalu, AALI sukses meraup pendapatan Rp19,08 triliun, naik sekitar 10,28% dari pendapatan di 2017.

--page

Tapi laba yang dapat diatribusikan ke pemilik perusahaan justru turun dari Rp1,97 triliun di 2017 menjadi Rp1,44 triliun tahun ini. 

"Ini akibat peningkatan biaya pendanaan," tutur Krestanti.

Biaya pendanaan AALI antara lain naik karena kenaikan bunga pinjaman bank. Pada 2017, AALI menanggung bunga pinjaman bank Rp 94,34 miliar. Tapi di 2018, bunga bank mencapai Rp214,20 miliar.

Krestanti memprediksi harga CPO tahun ini akan bergerak di kisaran RM 2.300-RM 2.500 per ton. Meski begitu, ia tidak menampik ada kemungkinan harga CPO terkoreksi lebih rendah. 

"Ini memang menjadi salah satu risiko bagi industri kelapa sawit. Persediaan meningkat tetapi tidak ada pembelinya, sehingga harga CPO turun," ujarnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)