BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) kemungkinan akan melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak medio hingga akhir pekan lalu pada perdagangan awal pekan ini seiring minimnya sentimen positif yang dapat menggairahkan pasar.
Untuk diketahui, harga CPO berjangka kontrak Mei di Bursa Derivatives Malaysia Exchange pada Jumat pekan lalu (8/3/2019) mencatat pelemahan 0,47% ke level RM2.125 per ton, sehingga mengikis harga CPO selama sepekan lalu sebesar 2,92%.
Penurunan pada akhir pekan lalu itu juga sebagai kelanjutan dari perdagangan hari sebelumnya yang anjlok 1,02% ke posisi RM2.135 per ton, setelah sehari sebelumnya juga turun 0,19%.
"Pasar saat ini masih lesu secara fundamental, apalagi permintaan juga diprediksi akan melemah," kata pelaku pasar di Jakarta, Senin (11/3/2019).
Pada awal pekan ini, otoritas Malaysia dijadwalkan merilis data ekspor minyak sawit. Sementara di pasar komoditas lain, harga minyak kedelai di Chicago juga tertekan turun 0,3% pada akhir pekan lalu, sehingga akan direspons negatif oleh pelaku pasar di bursa CPO.
--page
Di sisi lain, pengamat industri sawit Thomas Mielke mengatakan harga CPO diperkirakan naik menuju kisaran RM2.350 hingga RM2.450 per ton dalam empat hingga enam bulan ke depan.
Kisaran itu meningkat dari nilai perdagangan bulan ini untuk kontrak Mei yang berada di angka RM2.152 per ton. Hal itu didukung oleh kuatnya permintaan global.
“Ketergantungan global terhadap minyak sawit meningkat pada 2019, khususnya meningkatnya impor dari China dan India,” ungkap Mielke.
Mielke juga mengatakan produksi CPO Malaysia diperkirakan meningkat 600.000 ton menjadi sekitar 20,1 juta ton tahun ini, setelah turun 400.000 ton tahun lalu. (NEDELYA RAMADHANI/m)








