BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski pasar komoditas, khususnya minyak sawit, tengah dalam tren negatif, namun tahun ini harganya diprediksi akan lebih tinggi ketimbang tahun lalu.
Harga minyak sawit mengalami rebound pada Januari dan Februari 2019 menjadi masing-masing RM2.037 dan RM2.100,50, dibandingkan dengan November dan Desember yang masing-masing berada di angka RM1.830 dan RM1.794,50.
Menurut Prof Datuk Dr Mad Nasir Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia, secara umum harga minyak sawit dan minyak nabati lain bergantung pada proyeksi stok minyak sawit.
Diprediksi bahwa stok minyak sawit akan turun pada medio tahun ini, sejalan dengan tren produksi musiman, yang akan mendongkrak harga minyak sawit, khususnya jika Indonesia tetap komitmen dengan program mandatori biodiesel.
Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan naik ke level antara RM2.200 dan RM2.300 per ton pada Juni seiring menurunnya stok secara musiman.
--page
Selain itu, kenaikan harga juga ditunjang oleh kebijakan India menurunkan bea masuk untuk CPO dari beberapa negara, termasuk Malaysia dan Indonesia.
Untuk tahun ini, meski pasokan CPO melimpah karena pertumbuhan produksi yang stabil di Indonesia, konsumsi akan tetap tumbuh dengan pertumbuhan 5 persen year on year, yang merupakan pertumbuhan tercepat sejak 2013.
Dengan stok yang rendah dan menguatnya harga minyak kedelai dan minyak mentah dunia, maka harga CPO diprediksi lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun lalu dengan harga rata-rata RM2.300 per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








