JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pasar komoditas, khususnya minyak sawit, saat ini lebih banyak dibayangi sentimen negatif ketimbang positif, sehingga sulit untuk mendongkrak harga.

Analis Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf Siregar, menyatakan harga sawit kini sedang dirundung sejumlah sentimen negatif akibat permintaan melemah yang tercermin dari menurunnya impor sawit dari pembeli terbesar, India, dan meningkatnya produksi sawit di Malaysia dan Indonesia.

"Hal itu sudah jadi sentimen negatif," katanya dalam risetnya.

Selanjutnya, kabar terbaru Komisi Eropa memutuskan budidaya sawit penyebab deforestasi, sehingga penggunaannya sebagai bahan bakar harus dihapuskan. Menurut Deddy, hal tersebut berpotensi akan membatasi impor CPO di kawasan Uni Eropa.

"Selain itu, produksi rapeseed domestik di India akan meningkat pada tahun ini. Hal tersebut akan meningkatkan ketersediaan minyak rapeseed lebih dari 1,5 juta ton, sehingga menyerap permintaan dari dalam negeri," papar dia.

--page

Jika dilihat lagi, lanjut Deddy, kalau sampai kesepakatan dagang Amerika Serikat dan China berjalan lancar, bukan tak mungkin Negeri Tirai Bambu itu bakal lebih banyak membeli kedelai dari AS. 

"Artinya pasokan CPO akan tergantikan oleh kedelai. Oleh sebab itu, harga CPO pada tahun ini berada dalam tren bearish karena sentimen-sentimen negatif tersebut," ujarnya.

Deddy menambahkan, salah satu katalis positif yang bisa mendongrak harga sawit dalam waktu dekat adalah permintaan pada Ramadan mendatang. Pada momen itu, biasanya permintaan akan meningkat terutama di negara-negara Timur Tengah.

"Biasanya masuk kuartal II adanya permintaan dari Timur Tengah bisa menjadi sentimen positif, meski terbatas," tutur Deddy. (NEDELYA RAMADHANI/m)