PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Puluhan kader vaksinasi rabies hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangka Raya, Rabu (27/3/2019).

Meski dilaksanakan hanya di ruang rapat kantor DKPP di Komplek Perkantoran Pemko, Jalan G Obos, namun kader vaksinasi tetap antusias mengikutinya.

"Anggaran kita tahun ini dipangkas 30 persen. Tahun lalu kegiatan seperti ini kita masih sewa gedung dan sebagainya, tapi tahun ini hanya bisa dilaksanakan di ruang rapat kantor dengan konsumsi seadanya," kata Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Hewan (Keswan), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono.

Pengetatan anggaran ini menurut drh Eko membuat pihaknya harus memangkas beberapa keperluan tanpa mengakibatkan kekurangan kualitas.

"Kita tidak bisa memangkas anggaran untuk pengadaan suntikan atau vaksin rabies, kalung penanda juga tetap ada. Itu semua adalah kualitas untuk keamanan masyarakat dan hewan peliharaan dari penularan rabies. Makanya kita mohon pengertiannya kepada para kader karena kami hanya bisa mengadakan pertemuan seperti ini. Karena anggaran untuk rabies tidak dipangkas pun kita bersyukur," tuturnya.

--page

1. Palangka Raya Miliki 7 Ribu Dosis Vaksin Rabies

Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya
Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangka Raya disebut Eko, masih memiliki 7 ribu dosis vaksin rabies.

"Kita masih ada 7.000 dosis vaksin rabies. Yang 1.000 masih ada dan bisa langsung diambil vaksinator, ditambah 500 bantuan dari pemerintah provinsi," katanya.

Sisanya masih proses lelang pada tahun anggaran 2019 ini. Pemangkasan anggaran tahun ini menurut drh Eko membuat pihaknya harus memangkas beberapa keperluan tanpa mengakibatkan kekurangan kualitas.

"Kita tidak bisa memangkas anggaran untuk pengadaan suntikan atau vaksin rabies, kalung penanda juga tetap ada. Itu semua adalah kualitas untuk keamanan masyarakat dan hewan peliharaan dari penularan rabies. Makanya kita mohon pengertiannya kepada para kader karena kami hanya bisa mengadakan pertemuan seperti ini. Karena anggaran untuk rabies tidak dipangkas pun kita bersyukur," tutur Eko lagi.

2. Jumlah Kasus Rabies di Palangka Raya Terus Turun

Jumlah kasus gigitan hewan yang menyebabkan rabies di Palangka Raya terus turun dari tahun ke tahunnya.

--page

Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya
Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya

"Jumlah kasus rabies di Palangka Raya tiap tahun makin menurun, ini semua berkat kerja keras dari kader vaksinator kita," katanya.

Menurut Eko, pada 2016 ada 45 kasus gigitan yang positif rabies, lalu 2017 naik menjadi 58 kasus gigitan yang positif rabies.

"Pada 2016 itu kita belum adakan vaksinasi massal, lalu tahun 2017 vaksinasi dimulai. Hasilnya bisa dilihat di 2018 yang jauh berkurang menjadi hanya 14 kasus gigitan positif rabies," jelasnya.

Meski kader vaksinator harus lebih siaga lagi pasalnya baru awal 2019 ini sudah ada 3 kasus gigitan yang positif rabies.

"Tahun ini sampai sekarang sudah ada 3 kasus gigitan yang positif, dua di antaranya adalah hewan yang sudah tervaksin. Itu jadi bahan evaluasi kita," tegasnya.

3. Kecamatan Jekan Raya Terbanyak Kasus Rabies 2018

--page

Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya
Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya

Kasi Kesehatan Hewan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Palangka Raya ini mengatakan pada 2018 tercatat kasus gigitan rabies terbanyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya.

"Kasus gigitan rabies terbanyak itu ada di Kecamatan Jekan Raya," katanya. Bahkan ada kejadian pada bulan Juni 2018 menurut Eko seekor anjing rabies menggigit 7 orang korban di area Bukit Raya, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya.

"Lalu di Agustus ada lagi kasus yang anjing milik salah seorang warga itu menggigit 5 orang. Itu di Jalan Tingang, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya juga," jelasnya.

Karenanya menurut Eko, kader vaksinator yang telah diutus oleh dinas diharapkan untuk siaga di kawasan-kawasan yang telah ada kasus.

"Karena kasus rabies ini kan menularnya melalui gigitan, tidak bisa lewat udara atau apa. Jadi yang ada kasus gigitan ada kemungkinan akan ada korban lagi yang tertular, makanya di situ yang harus siaga," terangnya.

4. Tren Peningkatan Jumlah Anjing Terjadi di Perumahan Baru

--page

Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya
Warga bermain dengan anjing yang dirawat di Rumah Singgah Anjing Terlantar Palangka Raya

Tren peningkatan jumlah anjing setiap tahunnya di Palangka Raya terjadi di perumahan yang baru dibangun.

"Setiap ada perumahan baru pasti ada anjing baru juga, ini kami minta vaksinator rabies untuk mendatangi perumahan baru tersebut," kata drh Eko Hari Yuwono.

Masyarakat yang pindah ke perumaan baru ini biasanya membawa serta anjing peliharaannya dari perumahan lama atau malah membeli anjing yang baru.

"Perumahan baru biasanya kan masih sepi jadi anjing dibawa untuk menjaga rumah. Kalau dibawa pindah dari rumah sebelumnya ada kemungkinan sudah divaksin, tetapi kalau baru beli, kita jaga-jaga saja kemungkinan itu belum divaksin," jelasnya.

Karena itu vaksinator rabies menurut Eko diarahkan untuk mendatangi perumahan baru demi memvaksin hewan peliharaan, terutama anjing, yang dibawa ke perumahan baru itu.

"Saat ini sudah kerja bagus karena tren gigitan positif rabies itu semakin menurun, karenanya tahun 2019 ini pun kami minta kembali kerja sama dari vaksinator rabies di Kota Palangka Raya," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)