BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Peremajaan tanaman kelapa sawit dinilai sangat penting karena langkah ini untuk meningkatkan produktivitas sawit, terutama dalam upaya mendukung program biodiesel.
Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Ridwan Djamaluddin mengatakan China tertarik untuk mendanai program peremajaan (replanting) sawit di Indonesia.
Ridwan di Jakarta, Senin, menjelaskan ketertarikan China akan dibahas dalam pertemuan lanjutan di China dalam kerangka program Global Maritime Fulcrum-Belt and Road Initiatives (GMF-BRI).
"Sederhananya begini, ada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit yang sudah punya kegiatan dan dana, kemudian ada tawaran dari China melalui China Development Bank (CDB), jadi kita kaji tawaran ini," katanya.
Ridwan menuturkan Kemenko Maritim telah menggelar rapat dengan Kemenko Perekonomian, BPDP Sawit hingga Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait tawaran China ini.
--page
Tawaran itu dianggap menarik karena dapat mendukung upaya peremajaan sawit. Selain itu, tawaran investasi itu juga menarik karena program BPDP Sawit yang masih jauh dari harapan.
"(Ketertarikan China) tentu soal bisnis. Mereka punya dana. Kalau kita, program BPDP Sawit itu masih belum sejauh yang ditargetkan," katanya.
Meski baru akan membahas mengenai skema kerja sama program peremajaan sawit, Ridwan mengatakan pada tahap awal pemerintah Indonesia berniat untuk menawarkan kerja sama untuk mempersiapkan basis data kepemilikan lahan sawit di Indonesia.
Menurut dia, pemerintah mendorong lahan sawit bisa mendukung para petani kecil. Namun, belum ada basis data kepemilikan sehingga program peremajaan masih terus terkendala.
"Jadi, tahap awal yang mungkin akan kita tawarkan adalah kerja sama menyiapkan 'database' yang bisa digunakan sebagai dasar bagi bank untuk mencairkan dananya. Sekali lagi, tidak pemerintah yang berbisnis tapi silakan dia (China) dengan mitra industrinya Indonesia," katanya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








