BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ada potensi peningkatan harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia jika negeri jiran tersebut mengaktifkan kembali rencana pembangunan jalur kereta api tersebut oleh perusahaan asal China, yang sempat dibekukan beberapa waktu lalu.
Bila China kembali diizinkan melakukan pembangunan jalur rel di pantai timur Malaysia itu (East Coast Rail Link/ECRL), maka langkah itu akan membuka peluang pembelian minyak sawit oleh Negeri Tirai Bambu dalam beberapa tahun ke depan, demikian analisis CIMB Research medio pekan ini.
Perusahaan riset tersebut menyebutkan jika terjadi kesepakatan ekspor CPO dalam volume lebih besar dari Malaysia ke China dibandingkan tahun lalu yang sebesar 1,87 juta ton, itu akan membantu mendongkrak harga CPO seiring dengan berkurangnya stok.
“Jika ada komitmen China menggunakan lebih banyak minyak sawit ketimbang minyak nabati lain, maka itu akan memberikan sentimen positif bagi harga CPO karena meningkatnya permintaan global terhadap komoditas ini,” kata CIMB Research.
Namun, menurut CIMB Research, jika kebutuhan China terhadap minyak sawit tak berubah tapi dengan meningkatkan porsi pembelian komoditas ini dari Malaysia, maka itu berpotensi memperlebar kesenjangan harga CPO Malaysia dengan Indonesia.
--page
“Ekonom kami memperkirakan bahwa setiap kenaikan volume ekspor CPO sebesar lima persen, dengan asumsi harga CPO konstan, maka itu dapat menaikkan surplus neraca berjalan Malaysia sebesar RM2 miliar atau 0,14 persen dari produk domestik bruto,” tulis CIMB Research.
“Kami mempertahankan proyeksi harga CPO rata-rata pada 2019 di angka RM2.400 per ton dan rekomendasi Netral untuk sektor ini,” kata CIMB Research.
Menurut laporan media setempat, saat ini Malaysia dan China tengah menegosiasikan biaya pembangunan ECRL di kisaran RM50 juta hingga RM60 juta per km, dan sebagai imbalannya pemerintah China akan membeli CPO dari Malaysia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








